Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Viral, Wisata Unik Ini Dikunjungi hingga Seribu Wisatawan Per Hari

Ahmad Yani • Minggu, 24 Januari 2021 | 13:35 WIB
Pengunjung menikmati wisata Tomboan Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang (Rubianto/Radar Malang).
Pengunjung menikmati wisata Tomboan Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang (Rubianto/Radar Malang).
Ingin merasakan suasana kuno seperti zaman kerajaan sebelum Indonesia merdeka? Datang saja ke wisata Tomboan Ngawonggo di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Selain suasana ”Kampung Kuno”, Anda juga bebas menikmati jajanan tempo dulu. Tak harus bawa uang banyak karena pembayaran seikhlasnya.

Siang itu, embusan angin datang dari rimbunnya pohon bambu. Suara gemericik air beriringan dengan alunan musik khas Jawa makin menguatkan suasana tempo dulu. Apalagi, muda-mudi yang berlalu-lalang juga mengenakan pakaian khas kuno.

Di perkampungan mini yang bangunannya tak lebih dari 10 unit itu semua serbatempo dulu. Termasuk jajanan juga tempo dulu. Itulah suasana di wisata Tomboan Ngawonggo. ”Awalnya karena ada Situs Ngawonggo, kemudian banyak yang mengunjungi,” ujar Rahmad Yasin, pengelola Tomboan Ngawonggo itu.

Ya, di perkampungan itu memang ada Situs Ngawonggo. Berawal dari keberadaan situs itulah yang membuat Yasin dan beberapa warga yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis) membangun wisata Tomboan Ngawonggo. ”Dari dulu warga sini sudah tahu (keberadaan Situs Ngawonggo, Red). Pas viral itu, baru dapat tanggapan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur dan dinas pariwisata dan kebudayaan,” tambah Yasin.

Karena dapat tanggapan dari berbagai kalangan, akhirnya sejarawan dan budayawan mulai berdatangan ke situs ini. ”Karena banyak tamu, akhirnya kami berinisiatif untuk bikin prasarana ini (Tomboan Ngawonggo),” tutur pria berambut gondrong itu.

Yasin menerangkan, semakin hari tamu yang datang semakin banyak, akhirnya Tomboan Ngawonggo yang sebelumnya hanya digunakan sebagai prasarana untuk menerima tamu, kemudian ditambah konsepnya dengan menyajikan hidangan kuliner. ”Tempat ini mulai ada suguhan sekitar sembilan bulan lalu. Mulai awal pandemi Covid-19, dibuat ya karena banyaknya tamu,” tandasnya.

Yasin lantas memberdayakan warga sekitar. Warga Dusun Nanasan yang tidak mempunyai pekerjaan ditampung di Tomboan Ngawonggo. ”Bersyukur sudah banyak warga sekitar yang terberdayakan, sekitar 30-an orang lah,” ungkapnya.

Tugas mereka pun bermacam-macam. Ada yang bertugas sebagai penyedia hidangan, ada yang membantu pelayanan, serta keamanan di sekitar lingkungan. ”Ada yang bagian jajanan, rewang di sini, tukang, juga bagian parkir,” bebernya.

Seluruh warga yang tergabung tersebut saling bahu-membahu melayani tamu yang datang. Yasin menjelaskan, setiap harinya tempat ini bisa kedatangan ratusan pengunjung. ”Untuk hari biasa (weekday) sekitar 200 pengunjung per hari. Kalau weekend bisa sampai 1.000 orang per hari,” kata dia.

Yasin menerangkan, tempat ini lebih mengedepankan edukasi dan budaya. Dalam masa pandemi Covid-19 ini, hidangan yang tersedia pun dari bahan-bahan alami. ”Kami menyuguhkan hidangan sesuai anjuran pemerintah, seperti empon-empon, sayuran, dan jajanan tradisonal,” tandasnya.

Photo
Photo
Rahmat Yasin menyiapkan minuman untuk pengunjung. (Rubianto/Radar Malang)

Nikmati Suguhan Sepuasnya, Bayar Seikhlasnya
BAGI sebagian masyarakat yang terbiasa menikmati hidangan restoran ala Eropa mungkin akan terkejut dengan hidangan yang ditawarkan pada Tomboan Ngawonggo ini. Sebab, suguhan kuliner yang tersedia terbuat dari bahan-bahan yang serbaalami dan khas tempo dulu.

Pengelola Tomboan Ngawonggo Rahmad Yasin memaparkan, hidangan yang disuguhkan pada tempat ini mengambil konsep kembali ke budaya serta memanfaatkan sumber daya alam (SDA) di lingkungan sekitar. ”Suguhannya di sini dari tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar. Tidak ada yang mengandung susu, hewani, serta ikan,” jelasnya.

Dengan memanfaatkan bahan-bahan dari sekitar lingkungan tersebut, Yasin menerangkan, terdapat makanan sederhana yang tersedia seperti nasi jagung, tempe, tahu, sayur botok, urap-urap, sayur lodeh. Kemudian dari segi minuman, terdapat bahan alami seperti jinten, daun kelor, cengkeh, lada, serai, secang, dan bunga rosela. ”Jajanan tradisional juga ada, seperti dari singkong, ya yang bukan dari pabrikan lah,” bebernya.

Jika hendak mengunjungi tempat ini, dia menyarankan wisatawan untuk reservasi lebih dulu. Sebab, jika tidak dipesan jauh-jauh hari, dia khawatir wisatawan tersebut tidak kebagian makanan lantaran pihaknya tidak menyediakan stok tambahan.

”Karena adab di sini (Tomboan Ngawonggo) itu kabar-kabar dulu kalau mau bertamu (berkunjung). Kalau langsung datang ya boleh, tapi hidangan yang disediakan seadanya,” paparnya.

Siapa pun yang datang ke Tomboan Ngawonggo, baik itu reservasi maupun langsung, dipersilakan menikmati hidangan yang tersedia. Mereka boleh menikmati menu apa pun dan tidak dibatasi. Setelah menghabiskan makanan, dia mengatakan, wisatawan tidak dipatok biaya. Mereka boleh membayar seikhlasnya. ”Di sini tidak bertarif. Kalau mau partisipasi (membayar seikhlasnya), tinggal dimasukkan kotak saja. Yang reservasi juga seikhlasnya,” bebernya.

Alasan di balik pembayaran menggunakan sistem partisipasi tersebut, Yasin mengungkapkan, karena dia ingin menggunakan prinsip sederhana dan bisa mencukupi kebutuhan tamu yang datang. ”Sederhana aja, nggak muluk-muluk. Yang penting bisa jalan,” tandasnya. (rmc/ajh/dan)
Editor : Ahmad Yani
#tajinan #jajan kuno #Wisata #Kabupaten Malang #desa ngawonggo