Koordinator Keselamatan Laut Pantai Nganteb Suliadi mengatakan, wisatawan yang berkunjung mengalami penurunan drastis sejak pemberlakuan PPKM pada Juni lalu. Pantauan Jawa Pos Radar Malang, mayoritas kedai milik warga yang berada disekitar terlihat tertutup. Hanya beberapa yang buka, itu pun kebanyakan diisi oleh nelayan yang baru saja bersandar dari melaut.
"Ya mau bagaimana lagi, dari sana (pemerintah) perintahnya ditutup, ya kami harus patuh," kata Suliadi. Pria 50 tahun itu menyebut, imbas dari penutupan destinasi pantai tersebut membuat omzet penjualan warga sekitar turun drastis. "Sekarang turunnya lebih dari 70 persen, kalaupun ada ya yang beli orang-orang sini saja. Kalau dulu kan ada wisatawan," imbuh dia.
Meski demikian, warga asli Desa Tumpakrejo itu tidak menampik bahwa masih ada wisatawan bandel yang ngeyel untuk tetap masuk area wisata. "Di depan jelas kami sudah kasih papan peringatan kalau masih ditutup, tapi kadang mereka datang waktu malam hari dan nyelonong begitu saja sehingga tidak terpantau," jelas Suliadi.
Terkadang, ada juga wisatawan yang datang bersama rombongan dari luar kota. "Mereka beralasan sudah datang jauh-jauh dari luar kota, mau menolak juga kami tidak enak sendiri," sesalnya. Selama wisata ditutup, Suliadi menuturkan bahwa banyak di antara pedagang yang kembali pada profesi utama mereka yakni sebagai petani dan nelayan.
"Jadi meskipun penjualan turun, kalau untuk ekonomi cukup stabil. Lek tani kan mangan nggak usah tuku (kalau bertani kan untuk makan tidak usah beli, bisa ambil dari ladang)," beber dia. Namun menanggapi rencana pemerintah untuk kembali membuka destinasi wisata, raut wajah Suliadi berubah sumringah.
"Ya bersyukur, kami bisa jualan lagi. Tamu juga tidak usah kucing-kucingan lagi kalau mau berlibur ke sini," tambahnya. Namun dia mengaku belum mengetahui secara pasti tentang sistem yang akan diterapkan kepada pengunjung baik dari aspek pembatasan kapasitas maupun kewajiban untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi. "Saya belum tahu kalau memang harus begitu," akunya.
Selain lanskap pemandangan alamnya, Pantai Nganteb juga dikenal sebagai pantai religi. Ini karena pantai tersebut masih menyimpan nilai adat dan budaya yang dilestarikan sampai sekarang. “Di pantai ini ada dua ritual besar yang dilakukan yaitu 1000 Kupat waktu Idul Fitri dan Syuroan pada 1 Muharram," terang Suliadi.
Tak hanya diikuti oleh warga sekitar, wisatawan biasanya juga turut diajak berpartisipasi oleh masyarakat setempat.
“Sebelum ritual dimulai, biasanya diadakan arak-arakan makanan yang akan dihidangkan. Arak-arakan ini dilakukan sampai ke atas perbukitan sebelah kanan pantai ini. Setelah diarak, makanan dibawa ke pendopo agung kemudian dilakukan doa bersama," beber pria ramah itu.
Selanjutnya, makanan dihidangkan di Pendopo Agung untuk dinikmati bersama para wisatawan. Warga setempat meyakini bahwa dulunya di Pantai Nganteb dibangun Pendopo Agung yang menjadi tempat warga Malang Selatan beribadah pada zaman dahulu.
Sebelumnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang telah merilis lima obyek wisata yang akan melakukan uji coba operasional.
Plt Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara mengatakan bahwa saat ini lima obyek wisata tersebut telah diajukan untuk dibuka. Lima wisata tersebut adalah Lembah Indah Kecamatan Ngajum, Flora Wisata San Terra Pujon, Desa Wisata Pujon Kidul, Desa Wisata Sanankerto Boonpring, dan Pantai Balekambang.
"Lima obyek wisata tersebut dipilih karena memiliki sinyal internet yang cukup. Namun, kami dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harus melalukan survei terlebih dahulu," ucap Made. Jangkauan jaringan sangat perlu sebab operasional aplikasi PeduliLindungi diwajibkan sesuai dengan kebijakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Koordinasi Maritim dan Investasi.
"Kami akan survei dulu nanti, kami kirim video dan dilaporkan kepada Kemenparekraf dan Menko Marves. Minggu depan kami akan ke lapangan," tutup Made.
Pewarta: Farik Fajarwati, M. Ubaidillah, Eka Fahrun Nisak Editor : Farik Fajarwati