Yakni mencapai 1.060 pengunjung per tahun. “Sejauh ini per bulan paling 100-200 pengunjung. Kalau bisa ya suatu saat tembus 1.000 per bulannya,” ujar Ari. Dia juga menyebutkan, 70 persen kunjungan berasal dari kalangan mahasiswa dan pelajar. Sebab, katanya, tempat tersebut memang cocok untuk konten media sosial generasi milenial.
Untuk mendongkrak jumlah kunjungan, pihaknya akan terus berpromosi melalui media sosial (medsos), serta memanfaatkan fasilitas promosi dari dinas pemuda, olahraga dan pariwisata (disporapar) Kota Malang. “Dari Pemkot Malang, biasanya perwakilan kami mengikuti pelatihan peningkatan destinasi yang mereka adakan,” kata dia. Sementara hingga kemarin (20/1), jumlah pengunjung museum tersebut di angka 43 orang.
Mayoritas mahasiswa. Museum yang berdiri sejak 2016 lalu itu memiliki visi sebagai pusat dokumentasi musik Indonesia. Di dalamnya terdapat sekitar 40 ribu koleksi, yang terdiri atas 60 persen kaset pita, 20 persen piringan hitam dan sisanya 20 persen meliputi beberapa. Di antaranya berupa buku majalah tentang musik, serta alat musik dari berbagai penjuru Indonesia.(yun/dan) Editor : Mardi Sampurno