KABUPATEN - Museum Panji baru saja menorehkan prestasi dalam East Java Tourism Award (EJTA) 2023 pada 31 Oktober lalu. Acara yang digelar di Kabupaten Pasuruan itu mengumumkan Museum Panji menjadi juara satu untuk kategori Destinasi Wisata Budaya terbaik se-Jawa Timur (Jatim).
Museum yang berada di Kecamatan Tumpang itu berhasil menyabet juara karena keunikannya. Yakni menonjolkan edukasi sejarah sebagai daya tarik ke wisatawan. Pemilik Museum Panji Dwi Cahyono Inggil mengatakan, penilaian dimulai dari tiga bulan yang lalu.
Total ada 760 destinasi yang terbagi menjadi berbagai objek wisata. Mulai objek wisata budaya, objek wisata buatan, dan lain sebagainya. ”Seluruh objek wisata disaring hingga posisi lima besar. Kalau Museum Panji termasuk objek wisata budaya," kata dia.
Keberhasilan Museum Panji untuk menjadi destinasi wisata terbaik tidak terlepas dari konsep yang dibentuk. Menurut Dwi, museum tersebut banyak menekankan kegiatan bersejarah yang menarik minat masyarakat.
”Untuk kunjungan kami terbagi menjadi tiga, yakni kunjungan anak sekolah, pariwisata, dan perusahaan atau wisatawan asing," terangnya. Seluruh pengunjung akan diajak mengelilingi Museum Panji. Mulai dari melihat film mengenai asal-usul panji di auditorium menggunakan baju adat khas Malang.
Kemudian mempraktikkan upacara adat, pawai mengelilingi museum, hingga mempraktikkan aktivitas tradisional di masyarakat seperti menumbuk padi dan menulis di lontar.
Tak hanya disisipi aktivitas beragam yang mengajak pengunjung berinteraksi, Museum Panji juga bekerja sama dengan ahli dari dalam maupun luar negeri. Ahli yang kerap terlibat dengan Museum Panji adalah British Museum. Selain itu, beberapa waktu lalu mereka menjalin komunikasi bersama Rusia dan Jerman yang menemukan rekam jejak Panji di luar negeri.
”Alhamdulillah berbagai upaya yang kami lakukan ini bisa meningkatkan kunjungan di angka 30-40 ribu pengunjung," sebutnya. Hal tersebut juga berlangsung selama pandemi melalui tur museum secara virtual.
Bagi Dwi, salah satu indikator terbesar terpilihnya mereka di ajang itu karena pihaknya menekankan aktivitas budaya yang sesuai dengan literasi sejarah. ”Jadi tidak ngawur," tegas dia. Ke depan, pihaknya berencana terus mengembangkan koleksi di Museum Panji. Saat ini pengembangannya baru 40 persen. Masih banyak material-material yang bisa dikembangkan agar pengunjung tidak bosan. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana