MALANG - Demam bantengan sedang melanda Malang Raya.
Masyarakat di Malang yang menyukai seni bantengan pun berduyun-duyun datang tiap ada kabar penyelenggaraan.
Belakangan, seni bantengan sedang naik daun di Malang, melebihi jaranan atau jaran kepang dan seni tradisi lainnya.
Sejumlah informasi jadwal bantengan pun tersebar di media sosial dan grup-grup WhatsApp di Malang.
Dari himpunan data yang ada, berikut rangkuman jadwal pelaksanaan acara seni tradisi bantengan di sejumlah wilayah Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Jadwal Bantengan di Malang pada Januari 2023
- 17 Januari 2024: Boro Terongdowo Tirtomoyo Kecamatan Pakis Kabupaten Mlaang(Malam)
- 17 Januari 2024: Dau Kabupaten Malang (Malam)
- 18 Januari 2024: Dau Kabupaten Malang (Malam)
- 19 Januari 2024: Mogal, Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang (Malam)
- 20 Januari 2024: Krebet, Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang (Malam)
- 20 Januari 2024: Asrikaton Krajan, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang (Malam)
- 21 Januari 2024: Baran, Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (Malam)
- 21 Januari 2024: Ngrangin, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang (Malam)
- 21 Januari 2024: Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (Malam)]
- 23 Januari 2024: Srimulyo, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang (Malam)
- 24 Januari 2024: Bulurejo Saptorenggo, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang (Malam)
- 27 Januari 2024: Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (Malam)
- 27 Januari 2024: Duwet Krajan Kecamatan Tumpang Kabupaten Mlaang (Malam)'
- 27 Januari 2024: Gandongan Pandanwangi Kecamatan Blimbing Kota Malang (Siang+Malam)
- 28 Januari 2024: Codo Kecamatan Wajak Kabupaten Malang (Malam)
- 30 Januari 2024: Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (Malam)
- 30 Januari 2024: Ringinkembar, Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang (Malam)
- 30 Januari 2024: Kecamatan Singosari Kabupaten Malang (Malam)
- 31 Januari 2024: Baran Legok, Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang (Malam)
Sejarah Bantengan (dirangkum dari berbagai sumber)
Bantengan adalah pengembangan kesenian Kebo-keboan Ponoragan asal Ponorogo.
Posisi wilayah Ponorogo bersebelahan dengan Madiun yang terkenal sebagai kota silat.
Maka, banyak pesilat yang mendatangi Ponorogo serta melihat seni Kebo-keboan.
Bagi masyarakat itu, seni Kebo-keboan mempunyai makna sebagai penolak bala.
Seni itu juga dimaknai sebagai simbol penyelamat Raja Surakarta Paku Buwana II dari berbagai pemberontakan terhadap keraton.
Pesilat dari Mojokerto, Malang dan Batu turut terkesima dengan kesenian Kebo-keboan itu.
Sehingga mereka berinisatif membuat kesenian serupa tetapi menggunakan bentuk hewan Banteng.
Pasalnya, satwa ini mulai punah di sekitar lereng pegunungan.
Di Malang khususnya juga terdapat relief peninggalan candi jago di daerah tumpang yang bergambar banteng dan harimau.
Maka dari itu, sebelum tahun 2000 bentuk tanduk pada bantengan selalu menyerupai atau menggunakan tanduk kerbau seperti pada seni kebo-keboan di Ponorogo.
Setelah masuknya internet di pedesaan, para seniman mulai menggunakan tanduk banteng.
Tetapi sampai hari ini masih ada yang menggunakan tanduk kerbau sebagai cikal bakal seni bantengan.
Bantengan biasanya ditutup kain warna hitam bertepi merah, seperti penadon pakaian adat Ponorogo.
Bantengan yang berkembang di Mojokerto, Malang dan Batu kini merambah juga dilestarikan di Jombang yang berbatasan dengan Mojokerto hingga Kediri.
Sejarah Bantengan di Malang
Salah satu warisan budaya yang mencolok di kota Malang adalah seni bantengan, sebuah bentuk kesenian yang telah mengakar kuat dalam sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.
Seni ini dikaitkan dari kebutuhan masyarakat agraris untuk menyelenggarakan upacara-upacara adat yang berkaitan dengan hasil pertanian.
Dalam perkembangannya, seni bantengan mengalami transformasi menjadi pertunjukan seni yang lebih terstruktur dan terorganisir.
Pertunjukan seni bantengan umumnya melibatkan kostum yang menyerupai seekor banteng, dipakai oleh sekelompok pemuda yang kemudian menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan energetik.
Selain gerakan tubuh yang atraktif, seni bantengan juga diperkaya dengan penggunaan properti, musik tradisional, dan nyanyian yang menggambarkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Malang.
Selain sebagai bentuk seni, bantengan di Malang juga memiliki makna adat.
Dalam beberapa tradisi, pertunjukan seni bantengan dianggap sebagai sarana untuk mendatangkan keberuntungan dan kelancaran dalam berbagai aspek kehidupan.
Terutama yang berkaitan dengan pertanian dan kemakmuran masyarakat.
Meskipun seni bantengan di Malang telah mengalami perkembangan dan variasi, tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.
Berbagai komunitas dan kelompok seni di Malang aktif dalam merawat dan mempromosikan seni bantengan, baik dalam skala lokal maupun nasional.
Seiring dengan perubahan zaman, seni bantengan di Malang tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui seni bantengan, Malang membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat saling beriringan.(fin)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana