BUMIAJI memiliki banyak potensi pariwisata, termasuk wisata religi.
Salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan adalah Makam Mbah Mbatu di Jalan Masjid, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Tidak sulit mencari Makam Mbah Mbatu.
Maklum, lokasinya tepat di tepi jalan raya.
Ada tulisan besar terpampang di gapura yang bangunannya menyerupai candi.
Meski dinamakan Makam Mbah Mbatu, tempat tersebut tidak hanya menjadi peristirahatan terakhir dari satu tokoh.
Melainkan empat tokoh.
Yakni Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, Raden Bagus Joyo Permadi atau Pangeran Rojoyo, Raden Ayu Dewi Mutmainah, dan Kyai Abu Naim.
Setiap tokoh di Makam Mbah Mbatu memiliki peran masing-masing.
Yang cukup sering disebut adalah Pangeran Rojoyo dan Kiai Abu Naim.
Keduanya memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Kota Batu.
Keturunan keempat Pangeran Rojoyo, Arif Rahman mengatakan, Pangeran Rojoyo adalah putra Sunan Kadilangu.
Yakni cucu Sunan Mutia sekaligus cicit Sunan Kalijaga.
Mulanya Pangeran Rojoyo belajar agama dengan Syekh Maulana di Pesantren Dermayu Cirebon.
Setelah Sunan Kadilangu wafat, Pangeran Rojoyo diminta menggantikan ayahnya untuk memimpin Kadilangu Demak.
Kemudian pada 1600-an terjadi peperangan besar.
Amangkurat II dibantu Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menyerang Kadilangu Demak.
Karena kalah, Pangeran Rojoyo pergi ke Gunung Muria untuk menemui Sunan Muria.
Saat bertemu, Sunan Muria memberi wasiat agar Pangeran Rojoyo mengembara ke Timur dan menjadi mubalig untuk menyebarkan Islam.
Pangeran Rojoyo tidak sendiri.
Dia membawa beberapa pengikutnya.
Mereka akhirnya sampai di kawasan yang kini menjadi Desa Bumiaji.
Saat itu, nama kawasan masih Kabeneran.
Ada pula yang menyebutnya Wono Aji atau Banaran Bumiaji.
Selama menetap di Kabeneran, Pangeran Rojoyo membangun pondok pesantren (ponpes).
Pondok tersebut tepat berada di depan Makam Mbah Mbatu atau yang sekarang menjadi area Perhutani.
Selain membuat ponpes, Pangeran Rojoyo juga melakukan syiar.
Dia mendekati penduduk setempat yang belum memeluk agama Islam untuk melakukan kebaikan seperti salat dan mengaji.
Untuk meminimalkan penolakan, syiar tersebut diselundupkan melalui tradisi warga setempat.
Banyak orang-orang yang kemudian menjadi pengikut Pangeran Rojoyo.
Di antaranya Ki Ageng Gribig yang kemudian mengembara ke Malang Selatan, Mbah Patok di kawasan Songgoriti, dan Mbah Zakaria di kawasan Lesti.
Bahkan, dulu putri dari Raja Majapahit Suhito Kerto Bumi dengan Dewi Anjasmoro, yakni Raden Ayu Dewi Condro Asmoro minta masuk Islam kepada Pangeran Rojoyo.
Meski perempuan, Raden Ayu Dewi Condro Asmoro sangatlah alim dan menjadi tauladan projo Majapahit.
Tidak hanya Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, Arif menyebutkan bahwa peran Pangeran Rojoyo sudah sampai mancanegara.
Dia pernah menyembuhkan anak Raja Mesir dengan air putih.
Beliau juga dikenal sebagai imam besar di Makkah dan memiliki prasasti di sana.
Selama sembilan tahun menyebarkan Islam di timur, Pangeran Rojoyo merasa istiqamah.
Dia kemudian meminta istrinya, Raden Ayu Dewi Mutmainah beserta tujuh anaknya untuk pindah ke Banaran Bumiaji.
Sebelum pindah ke Banaran Bumiaji, Dewi Mutmainah sempat menjabat sebagai Bupati Demak.
Tapi beliau akhirnya menyusul Pangeran Rojoyo untuk mengasuh Pondok Pesantren Kabeneran.
Selain Dewi Mutmainah, Pangeran Rojoyo juga dibantu Kiai Abu Naim.
Sang kiai adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari serbuan Belanda.
Keduanya bersama-sama menyebarkan Islam kepada santri-santri baru hingga ke kawasan lain di Malang Raya.
Ajaran Islam dari Pangeran Rojoyo terus diwariskan ke santri maupun keluarga.
Termasuk anak-anaknya.
Salah satunya, anak bungsu yang bernama Muqtaribun memiliki keturunan yang kini masih tinggal di Kota Batu.
Muqtaribun memiliki keturunan bernama Muhammad Nachrowi.
Nachrowi lalu berkeluarga dan memiliki anak yang salah satunya adalah Arif Rahman.
Agar sejarah Pangeran Rojoyo tidak pudar, Nachrowi membangun kompleks pemakaman Mbah Mbatu sekitar 1995.
Kompleks itu seluas 4.000 meter persegi.
Dilengkapi tempat beristirahat dan tempat untuk berdoa.
Lalu pada 2014, Makam Mbah Mbatu dikelola oleh pihak desa.
Sampai sekarang, ajaran Pangeran Rojoyo masih diterapkan Arif Rahman sekeluarga.
Misalnya kegiatan melakukan tawasul.
Di samping itu, mereka sekeluarga rutin menggelar haul satu tahun sekali.
Haul terakhir digelar pada 20 Januari lalu.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana