Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Yuk, Kita Telusuri Sejarah Ringkas dan Mitos yang Mengelilingi Gunung Semeru dengan Lebih Mendalam

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Minggu, 7 April 2024 | 20:00 WIB
Photo
Photo

KABUPATEN MALANG -  Gunung Semeru merupakan Gunung Tertinggi di Pulau Jawa.

Asal-usul nama Gunung Semeru sering disebut sebagai Mahameru, yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "gunung yang agung".

Tak hanya itu, terdapat mitos dalam kitab Tantu Panggelaran yang menyebut bahwa Gunung Semeru adalah bagian dari Gunung Meru yang berada di India.

Puncak Gunung Meru tersebut dibawa oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu untuk menjadi ‘paku bumi’ bagi Pulau Jawa yang saat itu masih terus berguncang dan terombang-ambing karena mengambang di lautan luas.

Gunung Semeru, juga dikenal sebagai Gunung Meru, merupakan gunung berapi kerucut yang menjulang di Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Dengan puncaknya yang disebut Mahameru, setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru adalah yang tertinggi di Pulau Jawa.

Proses terbentuknya gunung ini disebabkan oleh subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia.

Dalam hal iklim, wilayah sekitar Gunung Semeru umumnya termasuk dalam jenis iklim B, dengan curah hujan bervariasi antara 927 mm hingga 5.498 mm setiap tahun.

Suhu di kawasan ini berkisar antara 3 °C hingga 8 °C pada malam dan dini hari, sementara siang hari mencapai antara 15 °C hingga 21 °C.

Administratif, Gunung Semeru terletak di wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.

Gunung ini juga masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Wilayah sekitar gunung ini kaya akan ragam flora, seperti hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Secara geografis, Semeru berada di antara 8°06' LS dan 112°55' BT.

Sejarah letusan Gunung Semeru tercatat mulai tahun 1818, meskipun catatan yang tersedia hingga tahun 1913 terbatas.

Namun, periode sekitar September 1941 hingga Februari 1942 terdapat aktivitas vulkanik yang tercatat dengan adanya lelehan lava.

Setelah itu, aktivitas vulkanik Gunung Semeru teramati lagi dari tahun 1945 hingga 1960.

Pemerintah mencatat aktivitas letusan pada tahun 1947, 1989, 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, dan 2008.

Letusan selama masa aktifnya cenderung memiliki karakteristik strombolian dan vulkanian, berasal dari kawah Jonggring Seloko.(*)

 

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#gunung semeru #Wisata