Kondisi Kesehatan Drop saat Tiba di Jakarta
SEHARI-HARI Kaito suka bergelantungan dan bermalas-malasan di dahan pohon.
Tapi, matanya selalu awas mengamati para pengunjung yang menontonnya dari luar exhibit.
Seperti masih terus beradaptasi sejak didatangkan dari Jepang ke Jawa Timur Park 2 pada 30 Juli lalu.
Populasi red panda di Indonesia terbilang sangat jarang.
Hanya ada dua kebun binatang yang memiliki spesies tersebut.
Yaitu Jatim Park 2 dan Taman Safari Bogor.
Untuk mendatangkan Kaito ke Indonesia, pihak Jatim Park harus melalui proses yang panjang, melalui program breeding red panda.
Program tersebut bekerja sama dengan Japanese Association of Zoos and Aquariums (JAZA).
Sebelum dibawa ke Indonesia, Kaito merupakan penghuni Tamazoo di Tokyo.
”Kami mengawali program itu dengan berkunjung langsung ke Jepang.” Kata drh Prista Dwi Restanti, salah satu anggota delegasi Jatim Park untuk membawa Kaito ke Indonesia.
Kunjungan ke Jepang dilakukan untuk konsultasi serta mendapat gambaran tentang spesifikasi kandang dan exhibit yang sesuai bagi Kaito.
Itu karena terdapat perbedaan habitat hewan antara di Jepang dengan di Indonesia.
Tim dari JAZA juga datang ke Indonesia untuk melihat kandang yang akan menjadi habitat Kaito.
Beberapa ornamen yang sudah disiapkan ternyata harus diubah.
Salah satunya, jaring yang mudah robek.
Setelah persiapan kandang selesai, Kaito diterbangkan ke Indonesia menggunakan boks khusus.
Boks itu dilengkapi pendeteksi temperatur atau suhu badan.
Saat tiba di Jakarta, dari dalam boks terdeteksi suhu yang tinggi.
Sampai 30 derajat celsius.
Padahal, suhu tubuh ideal red panda adalah 24 derajat celsius.
Kesehatan Kaito ternyata menurun sepanjang perjalanan menggunakan pesawat terbang.
Akhirnya, perjalanan dari Jakarta ke Kota Batu menggunakan jalur darat.
Di Kota Batu, suhu udara yang lumayan dingin tidak terlalu berpengaruh pada Kaito.
Bahkan dia bisa beradaptasi dengan baik.
”Untuk suhu AC maksimal kami setel di 24 derajat celsius. Namun biasanya kami atur di suhu 22 derajat celsius,” jelasnya.
Tim yang membawa Kaito ke Kota batu sangat memahami bahwa red panda tergolong hewan yang gampang panik.
Karena itu, usaha untuk mendekati Kaito dilakukan dengan sangat hati-hati.
Pada hari pertama berada di Jatim Park, kandang red panda jantan berusia dua tahun itu tak dibersihkan.
Tujuannya agar Kaito tidak bertemu dengan manusia.
”Kaito gampang panik dan nervous. Dia akan mondar-mandir, bahkan lompat menjauh ketika didekati orang asing,” ucap Prista.
Pada hari ke 10 Kaito baru terbiasa dengan keeper-nya.
Seperti hewan-hewan lain yang didatangkan dari luar, Kaito juga menjalani karantina selama dua pekan pertama.
Setelah itu baru dikenalkan dengan exhibit-nya.
Kaito mampu tidur 6 hingga 7 jam per hari.
Biasanya akan mulai tidur pada pukul 18.00.
Kemudian bangun pukul 21.00 sampai 22.00 untuk makan.
Layaknya jenis panda yang lain, Kaito juga memakan bambu.
Khususnya bambu yang punya daun kecil.
Tiap hari bisa menghabiskan 2 hingga 5 kilogram bambu.
Ada juga tambahan makanan berupa pelet khusus untuk primata pemakan daun.
Setiap hari sekitar 120 gram.
”Kami juga memberikan seperempat buah apel Fuji dam setengah batang wortel setiap hari,” katanya.
Ke depan, Jatim Park berencana mendatangkan red panda kedua yang berusia satu tahun tiga bulan.
Kemungkinan akan dikirim pada Oktober mendatang. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana