RADAR MALANG - Pasar Besar menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat Malang. Lebih dari sekadar tempat jual beli, pasar legendaris ini menjadi saksi bisu perubahan Kota Malang dari masa ke masa.
Pasar Besar berdiri pada tahun 1914 di masa penjajahan Hindia Belanda. Saat itu, Pasar besar dikenal sebagai Pasar Gemeente atau pasar milik pemerintah. Segera setelah dibuka, Pasar Besar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Perjalanan Pasar Besar tidak selalu mulus. Sepanjang dekade, pasar ini mengalami berbagai tantangan dan perubahan.
Pada periode 1932-1934, pemerintah kota mulai mengembangkan pasar-pasar lain. Tujuannya adalah untuk mengurangi kepadatan pedagang di Pasar Besar.
Tahun 1935 kebersihan dan penataan ulang Pasar Besar menjadi prioritas utama pemerintah.
Baca Juga: Pasar Oro-Oro Dowo, Sentra Kuliner Kota Malang yang Penuh Sejarah
Infrastruktur di sekitar pasar pun turut berkembang. Pada tahun 1937, pembangunan terminal bus dan oplet di belakang pasar mempermudah akses transportasi menuju ke Pasar Besar.
Fasilitas pun terus diperbaiki. Beberapa di antaranya adalah dengan penambahan tempat penitipan sepeda dan sarana MCK pada tahun 1941.
Modernisasi Pasar Besar pada 1973 dilakukan dengan pembangunan gedung bertingkat dua.
Namun, lagi-lagi Pasar Besar dilanda musibah. Tahun 1985, kebakaran besar melanda sisi timur pasar. Pada tahun tersebut bagian yang terbakar diganti dengan bangunan rangka besi dan atap asbes gelombang.
Baca Juga: Surga Kuliner Tradisional, Pasar Oro-Oro Dowo Malang
Dalam perjalanannya, Pasar Besar beberapa kali mengalami kebakaran lagi, misalnya pada tahun 2003 yang menghanguskan Matahari Department Store serta kebakaran kecil pada 2014 yang menghanguskan dua ruko.
Hari ini, Pasar Besar tetap menjadi surga bagi para pemburu barang murah dan kuantitas yang banyak.
Lorong-lorong yang mirip satu sama lain masih menyimpan ragam barang dagangan, dari pakaian, perabotan, hingga perlengkapan sekolah.
Tidak jarang pengunjung pemula akan kehilangan arah di dalam pasar.
Namun, jangan khawatir, tanyakan saja arah kepada para pedagang di sana. Para pedagang itu seolah-olah tahu area Pasar Besar lebih baik dari balik telapak tangan mereka. (Mahija)
Editor : Aditya Novrian