RADAR MALANG - Pecel selalu menjadi salah satu makanan khas Indonesia yang digemari banyak orang.
Di Malang, Anda bisa menemukan berbagai tempat makan pecel dengan keunikan dan keunggulannya masing-masing.
Berikut tiga rekomendasi tempat makan pecel di Malang yang wajib dicoba, bahkan dengan harga mulai Rp5.000.
Baca Juga: Dari Legenda hingga Modern, Tiga Rekomendasi Tempat Makan Rawon di Malang
- Warung Nasi Kuning & Nasi Pecel Rp5.000
Terletak di Jl. H. Alwi Barat, Sumber Bening, Tirtomoyo, Kec. Pakis, warung ini menawarkan pecel dengan harga yang sangat ramah di kantong, yakni hanya Rp5.000 per porsi.
Meski murah, rasa pecelnya tidak kalah dibandingkan dengan tempat makan lainnya.
Bumbu kacangnya pas, gurih, dan cocok dinikmati bersama nasi hangat.
Warung ini buka setiap hari dari pukul 06.00 pagi hingga 10.00 pagi, menjadikannya pilihan tepat untuk sarapan murah meriah di Malang.
- Rumah Makan Pecel Kawi Hj Musilah Asli 1975
Berlokasi di Jl. Kawi Kios No.43B, Bareng, Kec. Klojen, restoran ini sudah melegenda dengan berbagai menu khasnya.
Salah satu andalannya adalah pecel ayam yang disajikan dengan bumbu kacang gurih dan ayam yang lembut.
Selain pecel, rumah makan ini juga menyediakan hidangan lain seperti mie goreng dan soto ayam.
Tempat ini buka setiap hari dari pukul 06.30 pagi hingga 18.00 sore.
Baca Juga: Nikmati Sensasi Kuliner Minang, 3 Nasi Padang Favorit di Kota Malang
- Pecel Rawon Tumapel
Jika Anda ingin mencoba sesuatu yang unik, Pecel Rawon Tumapel di Jl. Tumapel No.5, Kauman, Kec. Klojen, adalah pilihan tepat.
Restoran ini menggabungkan dua hidangan favorit, pecel dan rawon, menciptakan cita rasa baru yang memikat.
Tempat ini buka dari pukul 07.00 pagi hingga 00.30 malam, cocok untuk sarapan hingga makan malam.
Baca Juga: Dari Lawar hingga Sate Lilit, Ini Rekomendasi Kuliner Bali di Malang
Ketiga tempat ini menawarkan kelezatan dan ciri khas masing-masing. Dari pecel harga ekonomis hingga kreasi unik pecel rawon, Malang adalah surganya pecinta kuliner tradisional.
Jadi, mana yang akan Anda coba lebih dulu? (rie)
Editor : Aditya Novrian