RADAR MALANG - Bioskop Kelud, yang dikenal dengan nama Dulek (dibaca terbalik sesuai dengan bahasa walikan khas Malang), merupakan salah satu ikon hiburan yang tak terlupakan bagi masyarakat Malang pada tahun 1970 hingga 1980-an.
Terletak di Jalan Kelud, bioskop ini menjadi primadona bagi kalangan menengah ke bawah, menawarkan pengalaman menonton film yang berbeda dan terjangkau.
Bioskop Kelud didirikan pada tahun 1970 oleh dua anggota Brimob, Noersalam dan Marsam, yang awalnya mengoperasikan bioskop keliling.
Dengan hasil dari usaha tersebut, mereka membeli lahan bekas gedung bulutangkis dan membangun Bioskop Kelud.
Konsep yang diusung adalah bioskop outdoor atau "misbar" (gerimis bubar), di mana penonton dapat menikmati film di bawah langit terbuka hingga hujan datang.
Pada masa kejayaannya, Bioskop Kelud selalu ramai pengunjung, terutama pada malam hari.
Tiket masuk yang murah meriah membuat bioskop ini menjadi pilihan utama bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Suasana malam di sekitar bioskop mirip dengan pasar malam, di mana pedagang bebas berkeliling menjajakan makanan dan minuman.
Film-film yang diputar pun bervariasi, mulai dari film lokal hingga film India yang terkenal dengan tarian dan busana minimnya.
Salah satu momen paling berkesan dalam sejarah Bioskop Kelud adalah saat pemutaran film "Inem Pelayan Seksi" pada tahun 1976, yang berhasil menarik sekitar 7000 penonton.
Film-film dengan tema sensasional dan laga koboi menjadi favorit di kalangan penonton saat itu.
Bioskop ini juga dikenal sebagai satu-satunya bioskop di Jawa Timur yang menerapkan sistem Drive-in Cinema, memberikan pengalaman unik bagi para penontonnya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi hiburan seperti VCD dan televisi, penonton mulai beralih dari bioskop ke media lain.
Akhirnya, Bioskop Kelud terpaksa ditutup pada tahun 1995 setelah 25 tahun beroperasi.
Meskipun demikian, kenangan akan Bioskop Kelud tetap hidup dalam ingatan masyarakat Malang sebagai simbol hiburan rakyat yang sederhana namun penuh makna.
Bioskop Kelud bukan hanya sekadar tempat menonton film, ia merupakan bagian dari sejarah sosial dan budaya Kota Malang.
Keberadaannya mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat serta perkembangan industri hiburan di Indonesia.
Hingga kini, bekas gedung bioskop tersebut hanya tersisa sebagai kenangan, namun kisahnya akan selalu dikenang oleh generasi-generasi berikutnya. (Adrian Irfan Pratama)
Editor : Aditya Novrian