SALAH satu spot di Kafe Nogo Keling yang berlokasi di Jalan Manunggal, Kecamatan Lowokwaru cukup unik.
Tampak ada sebuah bus lama yang disulap menjadi tempat ngopi.
Bus bekas PO Puspa Indah itu dirombak interiornya untuk spot nongkrong pengunjung kafe.
Proyek pemanfaatan bus yang sudah mangkrak itu merupakan buah dari kreativitas pengusaha muda Enggal Satria, salah satu pemilik kafe Nogo Keling.
Mulanya, Enggal melihat beberapa bus yang mangkrak di Terminal Landungsari.
Dia melihat potensi dari bus lawas milik PO Puspa Indah yang dinyatakan bangkrut dan diakusisi PO Bagong.
”Nogo Keling kan juga ada cabang di Terminal Landungsari. Saat itu saya liat ada beberapa bus Puspa Indah yang mangkrak, dari situ saya pikir bisa dimanfaatkan daripada bus-bus itu terbengkalai,” ujar Enggal.
Bus Puspa Indah yang dirombak itu pernah beroperasi pada tahun 1990 hingga 2000- an.
Melayani trayek Malang-Kediri yang berkapasitas 30 hingga 35 penumpang.
Bus itu memiliki panjang tujuh meter dan lebar 2,5 meter.
Bagian dashboard dan bagian kemudi masih lengkap dengan kursi driver.
Jok penumpang sudah dihilangkan.
Diganti dengan kursi memanjang berwarna merah dan biru kombinasi kayu dan besi.
Kaca jendela juga ditiadakan untuk memberi ruang ekstra bagi pengunjung.
Proses awal mendapatkan unit hingga finishing renovasi bus membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan.
”Dulu saya dapat unit ini lengkap dari body, chassis hingga interior seperti jok penumpang. Semuanya komplet, tapi tanpa mesin,” ujar Enggal.
Eksterior bus tetap dipertahankan.
Cat asli biru dan silver masih tampak di bagian body bus.
Sticker bertulisan Malang-Kediri yang menunjukkan trayek bus juga masih terpampang.
”Untuk eksterior masih sama seperti asli waktu dapat unitnya. Mungkin saya rasa biar ada sisi emosional saat lihat bus ini, karena saya juga masih sempat merasakan naik Puspa Indah saat kecil,” papar Enggal.
Sebelum mendapatkan unit bus Puspa Indah, Enggal juga sempat mencari opsi bus lain.
”Sebelum ini saya juga sempat mencari di daerah Dampit, bus medium milik PO Malinda, Santoso atau Al-Akbar dengan trayek Gadang-Dampit. Tapi, secara kondisi kurang sesuai dengan yang saya mau, lalu secara jaraknya juga terlalu jauh, karena harus diderek dari Dampit,” ujar Enggal.
Rini, salah satu pengunjung kafe mengapresiasi konsep tersebut.
”Unik, karena saya tidak pernah terpikir kalau bus bisa jadi tempat untuk ngopi. Dulu, saya juga pernah naik bus Puspa Indah untuk pulang pergi dari Malang ke Jombang,” ujar dia. (wb4/by)
Editor : Aditya Novrian