RADAR MALANG - Makan makanan pedas sudah menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Tak sedikit yang merasa makanan kurang nikmat tanpa tambahan cabai atau sambal. Namun, menjelang Ramadan, sering muncul anjuran untuk menghindari makanan pedas saat sahur dan berbuka. Alasannya, makanan pedas bisa memicu gangguan pencernaan yang mengganggu puasa. Lantas, benarkah anggapan ini?
Menurut Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), konsumsi makanan pedas saat puasa tidak perlu dihentikan sepenuhnya. Cabai memiliki banyak manfaat bagi tubuh, termasuk kandungan vitamin A, C, serta antioksidan yang baik untuk kesehatan. Selain itu, capsaicin dalam cabai dapat meningkatkan metabolisme dan membantu meredakan sakit kepala.
Meski begitu, konsumsi makanan pedas tetap harus dibatasi. Terutama bagi mereka yang memiliki masalah pencernaan, seperti maag atau gastritis. Makanan pedas dapat memicu naiknya asam lambung yang menyebabkan refluks asam atau GERD. Gejalanya bisa berupa sensasi terbakar di dada, mual, muntah, serta sulit menelan. Pada penderita maag, makanan pedas juga bisa memperparah nyeri ulu hati.
Tidak hanya itu, bagi penderita ambeien, makanan pedas bisa menimbulkan sensasi panas dan meningkatkan risiko perdarahan pada dubur. Oleh karena itu, orang dengan riwayat gangguan pencernaan sebaiknya lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan pedas saat puasa.
Di sisi lain, makanan pedas juga memiliki manfaat tertentu. Capsaicin dalam cabai dapat merangsang buang air besar, yang sering kali terhambat selama puasa akibat kurangnya asupan cairan dan serat. Bahkan, beberapa orang merasa lebih segar dan bertenaga setelah mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah wajar.
Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mengonsumsi makanan pedas saat puasa? Para ahli menyarankan untuk tidak langsung mengonsumsi makanan pedas saat berbuka. Sebaiknya, berbuka diawali dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma atau buah-buahan yang mudah dicerna. Setelah perut beradaptasi, barulah makanan utama dikonsumsi dengan porsi pedas yang tidak berlebihan.
Bagi mereka yang memiliki lambung sensitif, sebaiknya memilih makanan yang lebih ramah pencernaan saat berbuka dan sahur. Oatmeal, madu, sayuran, dan telur bisa menjadi alternatif yang lebih aman dibanding makanan pedas yang berpotensi menyebabkan iritasi lambung.
Kesimpulannya, makan pedas saat puasa bukanlah hal yang sepenuhnya dilarang. Jika tidak memiliki masalah pencernaan, makanan pedas masih boleh dikonsumsi dengan takaran yang wajar. Namun, bagi penderita gangguan lambung atau ambeien, sebaiknya lebih berhati-hati agar puasa tetap berjalan lancar tanpa gangguan kesehatan. (my)