RADAR MALANG - Ingat kolak sederhana ala nenek dengan pisang dan ubi?
Atau es selendang mayang yang dulu dijajakan gerobak keliling?
Kini, takjil tradisional itu telah berubah wajah.
Kolak tak lagi sekadar kuah santan, tapi sudah ada yang versi boba, mochi, bahkan durian premium.
Es selendang mayang pun bertransformasi jadi minuman kekinian dengan chia seed dan edible flowers.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada takjil Indonesia?
Takjil tradisional seperti kolak, bubur sumsum, dan es selendang mayang punya sejarah panjang.
Kolak misalnya, awalnya merupakan adaptasi hidangan Hindu-Buddha yang diislamisasi dengan simbolisme pisang (ketulusan) dan ubi (kesederhanaan).
Namun, di tangan generasi sekarang, bahan-bahan lokal itu bertemu dengan tren global.
Kolak kini hadir dengan topping boba ala Taiwan, es selendang mayang pakai sirup maple, dan bubur sumsum versi latte.
Perubahan ini tak lepas dari pengaruh media sosial.
Data menunjukkan 73% pedagang takjil mengaku menciptakan varian baru demi konten yang Instagramable.
Tren "mukbang" Ramadan juga melahirkan inovasi ekstrem seperti martabak kolak atau cendol carbonara.
Tapi di balik gemerlapnya, ada ancaman serius: 8 dari 10 anak muda tak lagi mengenal resep asli takjil tradisional.
- Rasa: Takjil tradisional unggul di keautentikan, sementara versi modern menang di kreativitas
- Kesehatan: Kolak klasik lebih rendah gula dibanding kolak boba dengan topping krim
- Harga: Es selendang mayang asli Rp5.000, versi kekinian bisa Rp25.000 dengan topping premium (sai)