RADAR BATU - Jadi salah satu makanan yang hampir selalu ada setiap lebaran, Opor Ayam jadi makanan yang identik dengan hari raya.
Sajian berkuah santan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia.
Tapi, tahukah Anda bagaimana sejarah dan makna di balik hidangan ini?
Baca Juga: Cobain Opor Kuah Susu di Malang, Menu Bukber Kekinian yang Bikin Penasaran
Sejarah Opor Ayam
Dilansir dari YouTube Dunia Sejarah, seorang sejarawan kuliner, Fadly Rahman, mengatakan bahwa opor merupakan akulturasi dari masakan Timur Tengah dan India.
Jika diperhatikan, India dan Arab memiliki sebuah hidangan yang mirip, yaitu kari dan gulai.
Dua-duanya merupakan masakan berkuah kental dengan rasa rempah yang kuat serta diberi daging.
Pengaruh kedua masakan tersebut kemudian masuk ke Nusantara sekitar abad ke-15 sebelum Masehi dan diperkenalkan oleh pedagang India dan Arab.
Jika orang Arab atau India memasak gulai atau kari menggunakan susu atau yogurt, maka orang Indonesia membuat makanan yang mirip menggunakan santan.
Maka jadilah opor dengan kuah santan yang kental dan gurih.
Karena opor diperkenalkan oleh pedagang India dan Arab, kemungkinan besar masakan ini diperkenalkan pertama kali di daerah pesisir.
Yakni di wilayah Sumatra, Jawa, dan Selat Malaka.
Oleh karena itu, opor ayam jadi sering ditemukan di wilayah Jawa dan Sumatra hingga saat ini.
Seiring waktu, opor ayam menjadi makanan khas dalam perayaan hari besar, termasuk Lebaran.
Mengapa Opor Ayam Selalu Hadir Saat Lebaran?
Opor ayam menjadi hidangan khas Lebaran karena erat kaitannya dengan budaya masyarakat Jawa.
Menurut sejarah, hidangan ini awalnya sering disajikan dalam tradisi syawalan, yaitu perayaan setelah sepekan Lebaran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul untuk saling bermaaf-maafan sambil menikmati hidangan khas, salah satunya opor ayam yang disantap bersama ketupat.
Ketupat sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam.
Baca Juga: Suguhan Lebaran Anti Ribet! Ini Dia Jajanan Kiloan yang Bisa Jadi Pilihan
Dilansir dari Bobo Grid, dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat, yang merupakan kependekan dari ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan.
Pola ketupat yang rumit melambangkan dosa-dosa manusia.
Namun ketika dibuka, akan nampak isi ketupat yang putih.
Hal ini melambangkan manusia yang lahir kembali dan suci di hari yang fitri.
Baca Juga: Mudik Lebaran, Ini Tempat Ngaso Paling Asoy Jalur Malang – Kediri
Opor ayam juga memiliki filosofinya sendiri.
Makanan berkuah ini memiliki santan sebagai bahan utamanya.
Santan dalam bahasa Jawa disebut santen yang memiliki makna ‘pangapunten’ atau mohon maaf.
Oleh karena itu, perpaduan antara opor ayam dan ketupat melambangkan kesucian dan saling memaafkan setelah Ramadan.
Tak heran, opor ayam dan ketupat selalu hadir sebagai bagian dari tradisi makan bersama saat Idulfitri.
Resep Opor Ayam Khas Lebaran
Bagi Anda yang ingin mencoba membuat opor ayam di rumah, berikut resep sederhana yang bisa diikuti:
Bahan-bahan:
- 1 ekor ayam, potong sesuai selera
- 2 lembar daun salam
- 2 batang serai, memarkan
- 4 lembar daun jeruk
- 500 ml santan kental
- 1 liter santan encer
- 1,5 liter kaldu ayam
- Garam dan gula secukupnya
- 1 sdt lada hitam
- Minyak untuk menumis
Bumbu Halus:
- 3 siung bawang putih
- 9 butir bawang merah
- 5 butir kemiri, sangrai
- 1 sdt ketumbar
- 1 ruas jahe
- 2 ruas kunyit
- 1 ruas lengkuas
- 1/2 sdt jinten
Cara Memasak:
- Tumis bumbu halus bersama daun salam, serai, dan daun jeruk hingga harum.
- Masukkan sedikit kaldu ayam.
- Masukkan potongan ayam, aduk hingga ayam berubah warna.
- Tuang semua kaldu dan tambahkan santan encer, aduk perlahan agar santan tidak pecah.
- Masak hingga ayam empuk, lalu tuangkan santan kental.
- Beri garam dan gula secukupnya, masak hingga bumbu meresap.
- Angkat dan sajikan dengan ketupat serta pelengkap seperti sambal goreng ati dan kerupuk.
Opor ayam bukan hanya sekadar hidangan khas Lebaran, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan cita rasa yang gurih dan kaya rempah, hidangan ini selalu menjadi favorit di meja makan saat Idulfitri tiba. (rossa)
Editor : A. Nugroho