KUAH bening atau kekuningan yang menyegarkan, potongan daging lembut, dan taburan bawang goreng renyah, siapa yang tak kenal soto?
Hidangan ikonik ini ternyata menyimpan narasi panjang tentang pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara yang bermula di pesisir utara Jawa sekitar abad ke-19.
Asal-usul namanya sendiri berasal dari dialek Hokkian "caudo" atau "jao to" yang merujuk pada hidangan jeroan berempah, menunjukkan akar Tionghoa yang kuat dalam kuliner ini.
Proses akulturasi yang unik terjadi ketika soto mulai diadopsi masyarakat Jawa.
Bahan dasar awalnya yang menggunakan daging babi perlahan beradaptasi menjadi ayam, sapi, atau kerbau untuk menyesuaikan dengan mayoritas penduduk Muslim.
Catatan sejarah dari Troppenmuseum Belanda tahun 1919 menggambarkan soto sebagai "Chinese soep" yang dijajakan dengan pikulan menggunakan mangkuk keramik khas Tionghoa di berbagai sudut kota.
Sejarawan Denys Lombard dalam karyanya "Nusa Jawa Silang Budaya" menelusuri jejak ini melalui berbagai elemen khas seperti penggunaan mi, bihun, dan tauco yang menjadi ciri pengaruh Tionghoa.
Yang menarik, soto tak sekadar menjadi makanan jalanan.
Seiring waktu, hidangan ini mengalami proses nobilitasi, dari makanan kelas pekerja yang dijual dipikulan, menjadi kuliner nasional yang diakui dalam buku resep "Mustika Rasa" di era Presiden Soekarno.
Kini, soto telah berkembang menjadi lebih dari 70 varian di seluruh Nusantara, masing-masing dengan karakter uniknya.
Soto Betawi dengan kuah santan kentalnya, Soto Kudus yang bening dan ringan, atau Soto Lamongan dengan koya gorengnya, semuanya bercerita tentang kemampuan adaptasi kuliner Indonesia.
Pengakuan internasional datang ketika CNN memasukkan soto dalam daftar 20 sup terbaik dunia tahun 2020.
Namun lebih dari sekadar prestasi kuliner, soto adalah bukti nyata bagaimana makanan bisa menjadi medium dialog antarbudaya.
Dalam setiap sendok kuahnya tersimpan cerita tentang toleransi, adaptasi, dan kreativitas yang telah berlangsung selama hampir dua abad.
Dari gerobak pedagang Tionghoa di Semarang hingga restoran modern hari ini, soto tetap setia bercerita tentang Indonesia yang majemuk namun bersatu dalam keanekaragaman. (sai)
Editor : A. Nugroho