RADAR MALANG - Gunung, yang dulunya jadi tempat manusia menepi dan merenung soal makna hidup, kini berubah fungsi jadi studio foto dadakan bagi para pendaki FOMO yang haus validasi. Puncak bukan lagi tentang perjalanan penuh makna, melainkan tentang sudut foto terbaik, angle paling kece, dan caption motivasi palsu yang siap dipamerkan di Instagram. Sayangnya, jejak yang ditinggalkan bukan hanya jejak kaki, tapi juga jejak bungkus mie instan, botol air mineral, dan sisa camilan yang berserakan di jalur pendakian.
Tak heran jika Pendaki Legendaris Indonesia, Djukardi Adriana atau yang akrab disapa Abah Bongkeng, sampai tak kuasa menahan air mata. Alam yang dulu ia kenal bersih dan asri kini berubah jadi tempat pembuangan akhir (TPA) dadakan. Di Gunung Rinjani saja, dari April hingga Oktober 2024, tercatat 31 ton sampah ditinggalkan para pendaki. Angka yang ironis, mengingat para “pecinta alam” ini selalu bangga menuliskan kata-kata bijak tentang menjaga bumi di kolom caption.
Baca Juga: Baru Dibuka, Ditutup Lagi: Pendakian Gunung Semeru Diperpanjang Akibat Cuaca dan Erupsi Beruntun
“Sebagai pendaki gunung harus memiliki etika ketika mendaki gunung," tegas Abah Bongkeng dalam diskusi bersama Mapala di Malang, Minggu (16/2). Ia menegaskan, mendaki bukan tentang eksistensi di dunia maya, melainkan tentang menghormati alam dan merawatnya.
Bukan cuma soal sampah, para pendaki dadakan ini juga terkenal ‘berani’—berani mendaki tanpa bekal ilmu, persiapan, bahkan peralatan keselamatan dasar. Mereka lebih rela tas penuh dengan powerbank, kamera mirrorless, hingga outfit OOTD, ketimbang membawa perlengkapan P3K, jas hujan, atau alat navigasi. Kalau tersesat, tinggal panggil Tim SAR—semudah memesan ojek online.
Baca Juga: Menembus Kabut Menuju Puncak: Pesona Gunung Malang dari Bukit Jabal
Fenomena pendaki FOMO ini jadi PR besar untuk pengelola gunung. Sayangnya, pengawasan di basecamp juga sering kali longgar, lebih mementingkan jumlah pendaki daripada kelestarian alam. Namun tidak semua pengelola tutup mata, seperti di Gunung Kawi via Precet, Jawa Timur. Di sana, setiap pendaki wajib mendata logistik yang mereka bawa sebelum mendaki, dan harus mencocokkannya lagi saat turun. Jika jumlah sampah kurang, siap-siap bayar denda Rp20.000 per item. Hasilnya? Jalur pendakian Kawi bebas dari sampah, udara tetap segar, dan pemandangan asli tetap utuh, bukan tercemar plastik.
Berbanding terbalik dengan beberapa gunung lain yang seolah mengandalkan keajaiban semesta untuk membersihkan sampah yang ditinggalkan pendaki. Ketika pengawasan longgar, para pendaki "palsu" ini leluasa meninggalkan kenangan dalam bentuk botol bekas, bungkus makanan, hingga puntung rokok, seolah gunung adalah tempat pembuangan pribadi.
Abah Bongkeng pun mengajak semua pihak, dari pengelola, pendaki, hingga penggiat media sosial, untuk berhenti menjadikan gunung sebagai panggung konten. “Sekarang mendaki gunung seperti FOMO. Dulu memang banyak yang menggemari naik gunung, tapi tidak seperti ini, kondisinya kotor, banyak sampah, alam rusak. Dulu saya mendaki Rinjani sangat bersih, elok dipandang, sekarang ditemukan banyak sampah, saya menangis,” tuturnya.
Mendaki gunung bukan tentang siapa cepat sampai puncak, siapa yang berhasil mendaki gunung paling banyak, atau siapa yang paling banyak likes di media sosial. Mendaki adalah soal menghormati alam, menyadari bahwa setiap sampah yang tertinggal di jalur bisa bertahan lebih lama dari jejak kaki pendakinya. Jadi, sebelum mendaki lagi demi feed Instagram, mungkin ada baiknya tanya dulu ke diri sendiri: betul mau mencintai alam? Atau cuma mencintai validasi? (my)
Editor : A. Nugroho