RADAR MALANG - Tren nongkrong di kafe kini tak hanya soal kopi enak dan interior estetik. Di Malang, sejumlah kafe mulai menghadirkan konsep sustainable alias ramah lingkungan yang menggabungkan gaya hidup hijau dengan kenyamanan bersantai. Tak hanya menjadi tempat hangout kekinian, kafe-kafe ini juga jadi pionir perubahan menuju gaya hidup lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
1. Retrorika Cafe
Salah satu pelopornya adalah Retrorika Cafe yang terletak di Kota Batu. Mengusung filosofi 3R—reduce, reuse, recycle—Retrorika memanfaatkan barang-barang bekas sebagai elemen desain. Jendela tua, tangki motor, hingga velg bekas disulap menjadi bagian dari furnitur yang unik.
Kafe ini juga sangat ketat soal sampah: tidak ada plastik sekali pakai, sedotan plastik, bahkan tisu. Sebagai gantinya, digunakan lap kain, sedotan stainless, hingga besek bambu. Untuk take away, pengunjung bahkan harus membeli botol kaca sebagai wadah minuman agar tidak meninggalkan jejak sampah.
Baca Juga: Nongkrong Jadi Lebih Hidup: Ini Cafe-Cafe di Malang dengan Live Music Seru!
Tak hanya ramah lingkungan, Retrorika juga hadir dengan sentuhan sosial: menyediakan makan siang gratis setiap Jumat dan hanya menggunakan kopi lokal dari Batu sebagai bentuk dukungan pada petani setempat.
2. Kafe Kontainer UMM
Di sisi lain, ada Kafe Kontainer UMM, sebuah inovasi dari Universitas Muhammadiyah Malang. Dibangun dari kontainer bekas dan ditenagai listrik dari PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) milik kampus, kafe ini jadi oase belajar yang nyaman bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain berkonsep eco-friendly, kafe ini juga jadi wadah edukasi dan pemberdayaan mahasiswa melalui program kerja dan kolaborasi komunitas.
3. Diavel Coffee
Sementara itu, Diavel Coffee menjadi salah satu pelaku yang serius dalam hal pemilahan sampah. Setiap karyawan dibiasakan memilah sampah secara konsisten dan aktif mengedukasi pengunjung melalui kegiatan seperti workshop Coffeepreneur. Diavel berharap praktik ini bisa menjalar ke seluruh pelaku usaha kafe di Malang.
Namun, perjuangan menuju kafe berkelanjutan di Malang bukan tanpa tantangan. Meskipun sudah ada Surat Edaran Wali Kota No. 8 Tahun 2021 tentang pengurangan plastik sekali pakai, banyak UMKM masih kesulitan mengakses kemasan ramah lingkungan karena harga yang relatif mahal. Padahal, kemasan seperti kertas, bambu, atau bahan biodegradable justru membawa dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan.
Pemerintah dan swasta diharapkan hadir lebih aktif, tak hanya dengan regulasi, tapi juga insentif, subsidi, hingga kerja sama dalam penyediaan kemasan hijau yang lebih terjangkau. Kafe-kafe seperti Retrorika, Kafe Kontainer, dan Diavel Coffee telah menunjukkan bahwa sustainability bukan sekadar wacana, tapi gaya hidup yang bisa diterapkan dan disukai. Dengan semakin tumbuhnya kesadaran kolektif serta dukungan lintas sektor, Malang berpotensi menjadi kota pionir dalam gerakan kafe ramah lingkungan di Indonesia. (my)
Editor : Aditya Novrian