Lokasi Kafe Gedong Ijen di Jalan Terusan Ijen Nomor 2B, Kelurahan Bareng, Kecamatam Klojen berada di samping gapura Ijen Nirwana.
Untuk ke sana, pengunjung harus memarkir kendaraan dan berjalan turun melewati lorong selebar 1,6 meter.
Karena cukup rendah, pengunjung harus sedikit merunduk untuk sampai di tempat. Setelah melewati lorong, ada empat ruangan yang bisa dipilih pengunjung.
Di dalamnya, layaknya sebuah kafe, juga disediakan kursi bagi pengunjung. Karena berada di bawah tanah, kondisi di dalam ruangan sedikit lembap.
Baca Juga: 3 Kafe Hidden Gem di Malang yang Cocok untuk Me Time dan Healing
”Karena itu kami sengaja menyalakan kipas 24 jam nonstop,” ungkap Mohamad Haris Ishaq, pemilik Kafe Gedong Ijen.
Tujuannya agar sirkulasi udara tetap terjaga. Pihaknya sengaja tidak memasang penguat sinyal agar pengunjung tak betah berlama-lama.
Itu juga sengaja dilakukan karena kapasitas ruangan seluas 80 meter persegi itu tak bisa menampung banyak pengunjung.
Haris menyebut, setidaknya ada 20 orang yang bisa ngafe dalam satu waktu yang sama. Dia bisa dibilang tak sengaja menemukan bunker itu. Tepatnya pada bulan September 2024 lalu.
Baca Juga: Keren! Berikut Deretan Kafe di Malang Raya yang Punya Misi Menjaga Lingkungan
Sebelum menjadi kafe, bunker itu merupakan tanah milik pensiunan Satpol PP Kota Malang yang dilelang tahun lalu.
Dia memang suka sesuatu yang bersejarah. Karena itu, dia tertarik untuk membeli dan menjadikannya sebuah kafe.
Dalam proses mengonsep, dia sempat mencari ke beberapa literatur untuk kafe bunker. Itu direkomendasikan oleh salah seorang rekannya dari Belanda.
Literatur itu merupakan data sejarah dari Den Haag, Belanja. Namun, mayoritas konsepnya terinspirasi dari kafe di Eropa.
Seperti Labore Cafe dan L’Escargot di Prancis. Tujuannya agar pengunjung mendapat pengalaman yang lebih nyata.
”Kami memang buat kafe se-otentik mungkin tanpa merombak bangunan yang sudah ada,” ujarnya.
Hanya dilakukan general cleaning dan pemasangan lighting di dalam bunker. Estimasi persiapannya hingga soft opening memakan waktu sekitar tiga bulan.
Haris memperkirakan bunker tersebut dibangun pada 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda.
”Kami juga bekali para pegawai kafe agar tahu mengenai sejarah bunker ini,” lanjut pria berusia 49 tahun itu.
Tujuannya, ketika ada pengunjung yang bertanya, mereka bisa menjawab bagaimana sejarahnya.
Sebab, pengunjung yang datang tak hanya dari kalangan masyarakat. Namun juga sejarawan, budayawan, hingga komunitas.
Untuk mendukung konsep, menu di dalam Kafe Gedong Ijen juga cukup menarik. Haris memadukan menu makanan western dan makanan tradisional Indonesia. Seperti cordon blue, chicken black pepper, sego bunker, hingga martabak kompeni.
Baca Juga: Cari Tempat Belajar yang Asyik? 3 Kafe di Malang Ini Jawabannya!
”Harganya juga variatif, sekitar Rp 14 sampai Rp 25 ribu saja. Itu agar bisa dijangkau kalangan pelajar,” kata dia.
Tak jarang banyak rombongan pelajar dari Kota Malang yang datang untuk sekalian belajar sejarah. Juga banyak kunjungan untuk foto pre-wedding dan membuat konten tanpa adanya pungutan biaya tambahan.
”Rencana kami grand opening pada 18 Mei mendatang,” kata dia.
Salah seorang pengunjung Muhammad Muzakki asal Kota Blitar mengaku tertarik datang karena sempat viral di media sosial. Dia sengaja berkunjung ke Kota Malang untuk mendatangi kafe tersebut.
”Selama ini sering baca sejarah bunker, baru bisa lihat wujud aslinya sekarang. Jadi tambah pengalaman baru,” kata dia. (ori/by)
Editor : Aditya Novrian