Slow Bar Cafe kini hadir di banyak tempat.
Salah satunya di pasar tradisional.
Contohnya ada Kite Slowbar, kedai kopi yang berlokasi di Pasar Klojen.
Awalnya mereka terinspirasi dari konsep Dynamis Space.
Sebuah kedai slow bar di Fresh Market Emerald di Bintaro, Jakarta.
Konsep itu cukup unik dan belum pernah ada di Kota Malang.
Dari sana, mereka kemudian mengadopsinya.
Operasional Kite Slowbar dimulai pada Januari tahun ini.
Edison Kurnia, barista di sana menyebut ada dua alasan mereka memilih Pasar Klojen.
Yang pertama karena faktor kebersihan.
Berikutnya karena lokasi pasar yang strategis.
”Lokasinya menjadi sangat strategis karena banyak jajanan yang dijual di pasar,” kata dia.
Menurut dia, pengunjung pasar awalnya datang untuk membeli makanan ringan.
Beberapa di antaranya memutuskan untuk mampir ngopi ketika melihat ada slow bar di tengah pasar.
Banyak di antara pelanggan yang datang merupakan orang-orang yang awam terhadap kopi.
Khususnya kopi filter.
”Selain penasaran, pelanggan juga bisa tahu kalau ada berbagai jenis olahan kopi yang bisa dinikmati,” imbuhnya.
Barista yang akrab disapa Edi itu mengungkapkan, banyak pelanggan menilai keberadaan slow bar di dalam pasar sebagai sesuatu yang unik.
Pasalnya, mereka mengira konsep slow bar hanya bisa diterapkan di dalam kafe.
”Tetapi sebenarnya sama saja, slow bar pada umumnya penyajiannya manual brew. Namun sambil dijelaskan seperti apa pembuatannya, jenis kopi bagaimana, hingga rasa yang dihasilkan,” papar dia.
Meski suasana lebih ramai, Edi menyebut pelanggan tetap bisa menikmati pengalaman khas dari slow bar yang mereka tawarkan.
Justru suasana pasar menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka. (zan/by)
Editor : A. Nugroho