RADAR MALANG - Pernahkah Anda membayangkan melangkah ke masa lalu di sebuah kota yang menyimpan sejarah panjang?
Malang, dengan julukan Paris van East Java, bukan hanya menawarkan kesejukan udara, tetapi juga cerita di balik bangunan kolonial dan situs bersejarahnya.
Jika Anda ingin menikmati perjalanan yang tidak sekadar wisata, melainkan eksplorasi budaya dan sejarah, berikut rekomendasi tempat terbaik yang akan membawa Anda ke lorong waktu.
Museum Brawijaya
Sejarah perjuangan bangsa masih dapat kita rasakan di Museum Brawijaya, yang terletak di Jalan Ijen No.25A, Malang.
Museum ini berdiri sejak 4 Mei 1968 dan menyimpan berbagai peninggalan militer dari masa perang kemerdekaan.
Salah satu koleksi paling ikonik adalah Gerbong Maut, sebuah gerbong besi yang digunakan Belanda untuk mengangkut para pejuang dalam kondisi mengenaskan, sebuah saksi bisu kekejaman kolonial.
Suasana museum ini tenang, memungkinkan pengunjung untuk lebih memahami sejarah perjuangan rakyat Indonesia.
Baca Juga: Disdikbud Kota Malang Targetkan 18 Ribu Kunjungan di Museum Mpu Purwa
Harga tiketnya pun terjangkau, hanya Rp 10.000 per orang, dan dapat dikunjungi setiap hari dari pukul 08.00 – 15.00 WIB.
Klenteng Eng An Kiong
Di kawasan Kotalama, tepatnya di Jl. R.E. Martadinata No.1, terdapat klenteng berusia hampir dua abad: Klenteng Eng An Kiong.
Dibangun pada tahun 1825, tempat ibadah ini bukan sekadar tempat untuk peribadatan, tetapi juga simbol keberagaman budaya di Malang.
Klenteng ini dihiasi dengan 99 patung dewa-dewi, warna merah yang dominan, serta aroma hio yang menambah kesan sakral.
Interior oriental yang megah membuat pengunjung merasakan perpaduan budaya yang masih lestari hingga kini.
Kabar baiknya, pengunjung dapat masuk secara gratis, cukup dengan menjaga sikap hormat dan berpakaian sopan.
Gedung KPPN Heritage & Kawasan Ijen
Jika Anda tertarik dengan arsitektur kolonial, Gedung KPPN Heritage di Jalan Merdeka Selatan No.1 adalah destinasi yang tepat.
Dibangun pada 1936 – 1937, gedung ini awalnya merupakan kantor pemerintahan Karesidenan Malang.
Kini, meski masih berfungsi sebagai kantor Kementerian Keuangan, gedung ini juga terbuka untuk umum pada hari kerja pukul 09.00 – 16.00 WIB.
Baca Juga: Penataan Ulang Museum Singhasari Kabupaten Malang Terancam Ditunda
Tak jauh dari sana, Kawasan Ijen menawarkan pemandangan boulevard klasik yang dipenuhi rumah mewah peninggalan Belanda.
Jalanan rindang dan tertata rapi menjadikannya salah satu spot terbaik untuk berfoto dengan latar nuansa Eropa.
Baca Juga: Menbud Bentuk Dewan Pengawas Museum dan Cagar Budaya
Toko Oen
Setelah lelah berkeliling, tak ada salahnya menikmati suasana tempo doeloe di Toko Oen, kafe klasik yang berdiri sejak 1930 di pusat kota Malang.
Interiornya tetap dipertahankan orisinal: lantai ubin tua, meja kayu, serta suasana yang membawa pengunjung kembali ke masa kolonial.
Menu khas seperti steak klasik, es krim rumahan, dan roti jadul menjadi sajian utama yang tak boleh dilewatkan.
Bagi pecinta sejarah, duduk di Toko Oen bukan sekadar menikmati hidangan, tetapi juga merasakan jejak masa lalu yang masih hidup dalam sudut-sudut kota ini.
Bagi yang ingin pengalaman lebih lengkap, jangan lupa mencoba Malang City Tour (Macito), bus wisata gratis yang berkeliling kota dengan jalur yang melewati berbagai situs bersejarah. (sai)
Editor : Aditya Novrian