RADAR MALANG - Di balik kepulan uap kuah hitam yang kaya rempah, rawon tidak hanya menjadi ikon kuliner Jawa Timur, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang.
Bahkan Raja Thailand Chulalongkorn (Rama V) dikabarkan jatuh cinta dengan hidangan ini saat berkunjung ke Jawa pada tahun 1896.
Kini, menjelang tahun 2025, Rawon Malang masuk dalam daftar Best Food Cities versi TasteAtlas, dengan Rawon Nguling sebagai salah satu kuliner unggulan yang wajib dicoba.
Bagi para pencinta kuliner, menikmati rawon legendaris di Malang bukan sekadar soal rasa, tetapi juga pengalaman mengunyah sejarah dalam setiap suapan.
Baca Juga: Belum Merasakan Kuliner Khas Malang? Wajib Cobain 5 Rekomendasi Tempat Makan Orem-orem di Malang
Berikut enam warung Rawon Nguling terbaik di Malang, yang menghadirkan cita rasa otentik dari masa ke masa.
- Rawon Nguling Malang – Warisan Kelezatan Sejak 1950-an
Lokasinya berada di Jl. Zainul Arifin No.62, Kiduldalem, Klojen
Buka mulai 07.00–15.30 WIB
Dibandrol dengan harga Rp14.000 (nasi rawon biasa), Rp35.000 (rawon buntut/dengkul)
Bermula dari Pasuruan, Rawon Nguling di Malang tetap mempertahankan tradisi kulinernya sejak tahun 1950-an.
Kuahnya tidak terlalu kental, tetapi kaya rempah dengan potongan daging sapi besar berbentuk kotak yang empuk.
Keistimewaan lainnya, Rawon Nguling menawarkan varian rawon buntut atau dengkul, yang memberikan tekstur kenyal pada kuah rempahnya.
- Rawon Rampal – Aroma Kayu Bakar dalam Setiap Suapan
Lokasinya berada di Jl. Panglima Sudirman No.71A, Kesatrian, Blimbing
Buka mulai 07.00–14.00 WIB
Dibandrol dengan harga Rp10.000–Rp60.000
Sejak 1957, Rawon Rampal dikenal dengan teknik memasaknya yang unik, menggunakan tungku kayu bakar untuk menciptakan rasa yang lebih pekat.
Kuahnya lebih medok dibandingkan Rawon Nguling, dengan bumbu keluak yang digunakan bisa mencapai 60–80 kg setiap akhir pekan.
Warung ini telah disambangi beberapa tokoh nasional.
- Rawon Tessy – Lebih Ringan, Cocok untuk Pemula
Lokasinya berada di Jl. Trunojoyo, Kiduldalem, Klojen (dekat Stasiun Kota Baru Malang)
Buka mulai 07.00–22.00 WIB
Dibandrol dengan harga Rp20.000
Di antara warung rawon legendaris lainnya, Rawon Tessy menawarkan kuah yang lebih ringan, tidak terlalu kental, dengan rempah yang terasa halus.
Cocok bagi yang baru ingin mencoba rawon tanpa merasa kuahnya terlalu berat.
Warung ini juga menyajikan nasi pecel, lodeh, dan opor ayam, tetapi tetap rawon empuk dan harum menjadi primadonanya.
Baca Juga: Tetap Eksis! Berikut 3 Rekomendasi Rawon Legendaris di Kota Malang
- Rawon Brintik – Resep Autentik dari Masa Kolonial
Lokasinya berada di Jl. KH Ahmad Dahlan No.39, Sukoharjo, Klojen
Buka mulai 05.00–15.00 WIB
Dibandrol dengan harga Rp20.000
Dikenal sebagai warung rawon tertua di Malang, Rawon Brintik berdiri sejak pendudukan Jepang tahun 1942.
Nama “Brintik” berasal dari panggilan pemilik pertamanya yang berambut keriting.
Meskipun telah berusia hampir delapan dekade, resep bumbu rawonnya tetap asli sejak awal berdiri.
Setiap pagi, pelanggan datang menikmati kuah hitam legam berpadu dengan daging lembut, tauge segar, dan taburan bawang goreng, rasa otentik yang tak lekang waktu.
- Rawon Pak Jenggot – Kental dan Porsi Melimpah
Lokasinya berada di Jl. Sulfat No.5, Purwantoro, Kecamatan Blimbing
Buka mulai 10.00–24.00 WIB, tutup Minggu
Dibandrol dengan harga Rp20.000
Sejak 1976, Rawon Pak Jenggot dikenal dengan kuah pekat dan porsi besar.
Warung ini menjadi pilihan tepat bagi pelanggan yang menginginkan rawon dengan tambahan sate usus atau paru sebagai pelengkap.
Baca Juga: Rujak Cingur Bu Kus, Kuliner Khas Malang yang Makin Istimewa dengan Kolak Pisang
Berbeda dari warung lainnya yang tutup sore hari, Rawon Pak Jenggot buka hingga tengah malam, menjadikannya tempat makan favorit bagi warga Malang yang lapar di malam hari.
6. Warung Lama Haji Ridwan – Sensasi Makan di Pasar Tradisional
Lokasinya berada di Pasar Besar Malang
Buka mulai 07.00–14.00 WIB
Dibandrol dengan harga Rp10.000–Rp25.000
Terakhir, ada Warung Lama Haji Ridwan, yang telah berdiri sejak 1925.
Berbeda dari warung lainnya, lokasi ini menawarkan sensasi makan di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional, memberikan pengalaman kuliner yang lebih otentik.
Selain rawon, warung ini juga terkenal dengan gule sapi klasiknya, yang masih menggunakan resep turun-temurun dari generasi ketiga keluarga Haji Ridwan. (sai)
Editor : Aditya Novrian