Radar Malang – Di tengah berkembangnya ragam kuliner modern, jajanan tradisional seperti kue putu tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Kota Malang menjadi salah satu destinasi yang menyajikan kue putu dengan cita rasa khas dan cara penyajian autentik. Aroma pandan dari kukusan bambu yang mengepul menjadi pertanda kehadiran jajanan ini di berbagai sudut kota.
Berikut tiga penjual kue putu yang patut dicicipi saat berkunjung ke Malang.
Pertama, Puthu Lanang yang terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan Klojen, merupakan salah satu kedai kue putu paling legendaris di Malang. Telah berdiri sejak tahun 1935, tempat ini dikelola oleh generasi kedua dan tetap mempertahankan resep turun-temurun.
Puthu Lanang tak hanya menjual kue putu, tetapi juga klepon, cenil, dan lupis. Setiap sore, antrean panjang pembeli kerap terlihat, mengincar cita rasa klasik yang disajikan hangat dengan taburan kelapa parut dan gula merah cair. Harga per porsi berkisar Rp15.000, sebanding dengan kenikmatan dan pengalaman kuliner yang ditawarkan.
Kedua, Putu Lawas Pojok yang berada di kawasan Gajayana, tepatnya depan ruko nomor 572. Warung kaki lima ini menawarkan konsep vintage dengan rasa yang otentik. Kue putu di sini disajikan sejak pagi hari, cocok sebagai teman sarapan atau camilan ringan.
Aroma pandan yang khas menyapa dari kejauhan, mengundang siapa saja yang melintas untuk mampir. Pengunjung menyukai kesederhanaan dan suasana akrab yang ditawarkan tempat ini.
Ketiga, Putu Pasar Klojen yang berada di dalam area pasar tradisional menjadi pilihan tepat bagi pemburu jajanan pasar otentik. Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB, aroma kukusan bambu mulai merebak di sudut pasar.
Penjual menawarkan putu dalam kemasan sederhana namun hangat, lengkap dengan cenil dan klepon sebagai pelengkap.
Tiga tempat ini bukan hanya menyajikan kue putu yang nikmat, tetapi juga menghadirkan kehangatan tradisi dan kenangan masa lalu.
Dengan bahan-bahan alami, penyajian klasik, dan harga bersahabat, kue putu tetap menjadi camilan favorit yang mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern. (Rizz)
Editor : Aditya Novrian