Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kiprah Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 yang Eksis Sejak 1987

Galih R Prasetyo • Rabu, 18 Juni 2025 | 17:50 WIB

BERTAHAN TIGA DEKADE: Sejumlah Anggota Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 melakukan trip ke Gunung Bromo beberapa waktu lalu.
BERTAHAN TIGA DEKADE: Sejumlah Anggota Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 melakukan trip ke Gunung Bromo beberapa waktu lalu.

Membuka Lapangan Pekerjaan untuk 678 Orang Sopir

Keselamatan dan kenyamanan penumpang menjadi prioritasnya. Itu yang membuat Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4  tetap dipercaya wisatawan. Saat ini memiliki enam koordinator wilayah. 

BEBERAPA jip terparkir rapi di Omah Semar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo pada Kamis (12/6) lalu. Di sana, puluhan sopir jip yang tergabung dalam Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 berkumpul. Pada waktu itu, mereka berlibur sembari menerima sosialisasi keselamatan wisatawan Gunung Bromo.

Paguyuban yang menaungi sopir jip Bromo Tengger Semeru (BTS) itu berdiri pada 17 Juli 1987. Saat itu, paguyuban tersebut diklaim jadi satu-satunya paguyuban jip di Indonesia. Awalnya, paguyuban itu hanya beranggota 13 orang sopir dan sebagai wadah bagi sopir jip untuk berorganisasi.

”Waktu itu, namanya masih Paguyuban Jip Bromo Tengger Semeru. Kami memang sering berganti nama,” ucap salah satu pendiri Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 Juli Atmaja. Nama paling lama digunakan, Paguyuban Pengemudi Angkutan Pegunungan Malang Bromo Tengger Semeru. Saat itu, trip paling populer mereka masih ke Gunung Semeru.

Pada 1987 hingga 2000an, paguyuban itu menarik iuran dari para sopir sebesar Rp 3.000 per bulan. Jika sudah terkumpul, iuran tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan anggota paguyuban. Seperti untuk perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan keperluan anggota yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah anggotanya semakin bertambah. Puncaknya pada 2009 yang mencapai ratusan anggota. Hal itu merupakan salah satu pengaruh dari aktifnya Bandara Abdulrachman Saleh dan Jalan Tol Trans Jawa. Sejak saat itu, banyak wisatawan yang mengetahui kalau di Malang ada trip ke Bromo.

”Karena dulu yang terkenal hanya trip ke Semeru. Jadi, terkadang ada (wisatawan) yang setelah ke Semeru lanjut ke Bromo,” kata pria berusia 60 tahun itu. Meski saat ini hampir memasuki usia 38 tahun, paguyuban tersebut masih menjaga eksistensinya. Bahkan mereka telah membentuk koordinator wilayah (korwil) saat itu.

Terdapat enam korwil yang aktif di paguyuban. Korwil Tumpang dengan anggota berjumlah 273 orang, Korwil Gubugklakah dengan anggota berjumlah 124 orang, Korwil Wringinanom dengan anggota berjumlah 127 orang, Korwil Poncokusumo dengan anggota berjumlah 78 orang, Korwil Wates dengan anggota berjumlah 59 orang, dan Korwil Ngadas Ranu Pane dengan anggota berjumlah 17 orang.

Saat ini jumlah iuran paguyuban itu menyesuaikan dengan nilai mata uang yang berkembang. Sekarang, sekali trip, para anggota menyetor Rp 25.000. Iuran tersebut juga akan dimanfaatkan untuk keperluan anggota.

Perinciannya, Rp 10.000 untuk tabungan para anggota, Rp 5.000 untuk penguatan modal di masing-masing korwil, Rp 3.000 untuk membayar ke salah satu dinas saat melewati rest area. Sedangkan, Rp 7.000 untuk kegiatan lainnya, misal pemberian santunan.

Sementara itu, tarif setiap trip menuju Bromo bervariasi. Mulai Rp 800.000 sampai Rp 1 juta, tergantung hari kerja, akhir pekan, atau libur panjang. ”Kalau hari kerja Rp 800.000, akhir pekan Rp 850.000, dan libur panjang bisa sampai Rp 1 jutaan. Itu belum termasuk tiket masuk,” ucap Sekretaris Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 Wahyu Prasetyo.

Dari aktivitas itu, para anggota Paguyuban Bromo Tengger Semeru Trans Operator 4x4 Wahyu bisa membuat dapurnya tetap mengepul. Pemasukan untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari sampai pendidikan anak.

 

Dalam praktiknya, sopir jip yang tergabung dalam paguyuban itu memiliki Standar Operational Procedure (SOP). Seperti saat membawa penumpang pada tengah malam, sopir tersebut harus beristirahat sore harinya. Tujuannya supaya kondisinya benar-benar fit saat bertugas.

Seperti diketahui, jalur dari Malang ke Bromo termasuk ekstrem. Pada bulan Mei lalu sempat terjadi kecelakaan dalam waktu yang berdekatan.

Paguyuban jip tersebut selalu berupaya melakukan evaluasi. Seperti dengan sosialisasi yang materinya terkait keselamatan hingga Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Program itu diharapkan, bisa membuat sopir jip melakukan pertolongan pertama saat ada kemungkinan terburuk terjadi kecelakaan saat melakukan trip.

Peningkatan pelayanan juga terus dilakukan. Keselamatan dan ketaatan dalam peraturan di jalan raya hingga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pun terus diperhatikan. ”Kami juga terus berupaya untuk eksis dalam misi sosial yang melibatkan paguyuban dan memberi manfaat untuk masyarakat lokal sebagai warga penyangga taman nasional,” pungkasnya. (*/gp)

Editor : A. Nugroho
#Trans #bromo tengger semeru #sopir jip bromo #Operator