Radar Malang - Terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Pantai Gatra menjadi salah satu destinasi unggulan Malang Selatan yang memadukan keindahan alam dan konservasi lingkungan. Dijuluki “Raja Ampat-nya Jawa Timur”, pantai ini dikenal dengan pasir putihnya yang bersih, air laut bergradasi biru, gugusan karang, serta hutan mangrove yang masih terjaga alami.
Pantai Gatra dikelola oleh komunitas Bhakti Alam Sendang Biru bersama Perhutani dan kelompok masyarakat setempat sejak sekitar tahun 2012. Keunikan pantai ini bukan hanya pada panoramanya, tetapi juga pada sistem pengelolaan berbasis konservasi.
Setiap pengunjung diwajibkan mengisi formulir daftar sampah bawaan dan dikenakan denda Rp100.000 per item bila membuang sampah sembarangan. Selain itu, ada donasi konservasi sebesar Rp5.000–Rp6.000 yang dibayarkan bersama tiket masuk.
Pantai ini hanya bisa diakses dengan berjalan kaki dari area parkir Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Biru, menempuh jalur trekking sepanjang 500 meter hingga 1,3 kilometer.
Rute ini melewati kawasan konservasi bakau, menjadikan perjalanan menuju pantai sebagai bagian dari pengalaman edukatif yang menyenangkan.
Setibanya di Pantai Gatra, pengunjung disambut suasana tenang dan asri. Aktivitas yang bisa dinikmati antara lain berenang, snorkeling, berkemah, berkeliling dengan kano, hingga bersantai di bawah rindangnya pohon mangrove. Ombak yang tenang membuat pantai ini aman bagi keluarga, termasuk anak-anak.
Fasilitas dasar seperti toilet, mushola, warung makan, serta persewaan alat kemah dan kano tersedia, meski tetap mengusung konsep sederhana dan ramah lingkungan. Pantai ini juga tutup setiap hari Kamis, sebagai bentuk komitmen pengelola dalam merawat dan membersihkan kawasan secara rutin.
Dengan pendekatan wisata berwawasan lingkungan, Pantai Gatra tak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga menyadarkan pentingnya menjaga alam. Pemerintah daerah dan komunitas lokal berharap pantai ini dapat terus dikembangkan tanpa mengganggu ekosistemnya, sekaligus menjadi contoh pengelolaan wisata berbasis konservasi di Indonesia. (Rizz)
Editor : Aditya Novrian