RADAR MALANG – Di tengah hiruk-pikuk Kota Malang yang semakin modern, Jalan Ijen Boulevard tetap menjadi saksi bisu perkembangan zaman. Jalan ini tidak hanya menjadi jalur utama yang ramai dilewati kendaraan, tapi juga menyimpan kisah sejarah panjang sejak masa Hindia Belanda.
Dibangun dengan konsep boulevard Eropa, Jalan Ijen sejak awal dirancang sebagai kawasan elit bagi para pejabat dan pengusaha Belanda. Keindahan arsitektur kolonial serta tata kota yang terencana menjadikannya salah satu kawasan paling berkelas di masanya.
Kini, kawasan tersebut menjadi salah satu ikon Kota Malang yang masih menyimpan nuansa tempo dulu. Mulai dari rumah bergaya kolonial, gereja katedral tua, hingga museum peninggalan sejarah masih berdiri kokoh di sepanjang jalan ini.
Dirancang oleh Arsitek Ternama Belanda
Pembangunan Jalan Ijen dimulai sejak 1935 dan berlangsung hingga sekitar 1960. Kawasan ini merupakan hasil dari rencana tata kota besar bertajuk Bouwplan, yang digagas pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1917. Total ada delapan Bouwplan yang disusun, dan kawasan Ijen termasuk dalam Bouwplan V.
Rencana ini lahir karena kawasan pemukiman Eropa lama di sekitar Tjelaket dan Lowokwaru dinilai tak lagi cukup. Oleh karena itu, perluasan wilayah ke arah barat dilakukan, dan kawasan baru ini diberi nama Bergenbuurt—berasal dari kata “berg” yang berarti gunung, merujuk pada nama-nama jalan seperti Semeru, Bromo, dan Arjuna.
Ir. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kota terkenal dari Belanda, menjadi tokoh penting di balik pembangunan kawasan ini. Ia merancang Jalan Ijen sebagai boulevard dua lajur dengan taman dan pohon palem di tengah, menciptakan suasana khas Eropa tropis yang menawan.
Kawasan Mewah dengan Fasilitas Lengkap
Selain ditanami taman dan pepohonan, kawasan Jalan Ijen dahulu dilengkapi dengan fasilitas elite, seperti lapangan tenis, stadion, kolam renang, dan rumah-rumah mewah. Semua dibangun mengikuti pola pemukiman terpadu yang menggabungkan keindahan arsitektur dengan fungsi kota modern.
Jalan utama ini dirancang untuk menghubungkan berbagai titik penting, termasuk Stasiun Kota Baru, Smeroe Park, dan pusat administrasi kota. Keindahan lanskapnya bahkan dirancang agar pengunjung bisa melihat Gunung Kawi di kejauhan.
Beberapa bangunan peninggalan Belanda di kawasan ini masih dapat ditemui hingga kini. Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel adalah salah satunya. Gereja bergaya neo-gothic ini dibangun pada 1934 dan menjadi salah satu gereja tertua di Jawa Timur.
Masih Jadi Ikon Kota Malang
Setelah kemerdekaan, kawasan Jalan Ijen tak kehilangan statusnya sebagai pemukiman elit. Kini, banyak pejabat, pengusaha, dan tokoh penting yang tinggal di sekitar jalan ini. Pada tahun 2015, kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Malang.
Selain sebagai tempat tinggal, Jalan Ijen juga aktif digunakan sebagai ruang publik. Setiap Minggu pagi, kawasan ini menjadi lokasi Car Free Day, dan setiap tahun menjadi tuan rumah acara budaya "Malang Tempo Doeloe", yang menghidupkan kembali suasana zaman kolonial.
Bangunan-bangunan seperti Museum Brawijaya, rumah listrik ANIEM, dan villa kolonial tetap berdiri meskipun mengalami perombakan dan renovasi. Beberapa di antaranya kini difungsikan sebagai rumah tinggal, restoran, atau kantor.
Warisan yang Tetap Dijaga
Hingga kini, Jalan Ijen Boulevard tetap menjadi salah satu kawasan paling fotogenik di Kota Malang. Penataan ulang taman dan lampu jalan yang dilakukan pemerintah menambah kesan estetis tanpa menghilangkan identitas sejarahnya.
Penambahan lebih dari 200 lampu jalan dan pemeliharaan taman dilakukan demi menjaga kawasan ini tetap nyaman dan indah, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.
Keberadaan Jalan Ijen tak hanya menunjukkan sejarah arsitektur dan perencanaan kota di masa lalu, tapi juga menjadi pengingat pentingnya merawat warisan budaya di tengah perkembangan kota yang semakin pesat. (id)
Editor : A. Nugroho