RADAR MALANG - Bus Malang City Tour (Macito) menjadi salah satu ikon wisata terbaru yang digemari warga dan wisatawan di Kota Malang. Beroperasi setiap hari dengan rute khusus, bus ini menyediakan fasilitas lengkap termasuk tangga hidrolik untuk penyandang disabilitas.
Penumpang juga akan ditemani oleh seorang pemandu wisata (tour guide) selama perjalanan, sehingga tidak hanya sekadar berkeliling, tetapi juga mendapat pengetahuan tambahan tentang sejarah dan lokasi penting di Kota Malang.
Macito sendiri diluncurkan sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi gratis bagi masyarakat Malang dan sekitarnya. Antusiasme masyarakat yang tinggi bahkan mendorong pemerintah kota menambah armada baru pada tahun 2023. Namun, meski menuai banyak pujian, layanan ini juga tak luput dari beberapa catatan kritis dari para pengunjung.
Salah satu pengunjung, Wana, mengungkapkan bahwa rute perjalanan bus Macito terasa kurang menyeluruh. “Rutenya nanggung ya, kurang lebih agak sedikit ditambahi untuk mengelilingi landmark Kota Malang ini,” tuturnya. Ia merasa pengalaman berkeliling akan lebih maksimal jika jalur yang dilewati mencakup lebih banyak ikon kota.
Selain itu, keluhan juga datang dari sisi interaksi pemandu wisata. Ikhsan, salah satu penumpang, menyayangkan sikap tour guide yang dinilainya kurang ramah. “Tour guide-nya kurang perhatian dengan penumpang, kayak cuek dan flat gitu. Mungkin dia lelah karena sudah sore juga. Tapi overall semuanya bagus sih, karena gratis tidak dipungut biaya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Nabila, seorang mahasiswa asal Blitar, juga memberikan masukan tentang minimnya interaktivitas selama tur berlangsung. “Kekurangannya si paling di waktu tournya itu gaada kaya tanya jawab gitu, jadi kaya kurang interaktif lah. Kalo ada tanya jawab kan enak sebenernya, jadi lebih seru,” ungkapnya.
Meski begitu, Macito tetap menjadi daya tarik utama warga Malang dan wisatawan. Banyak pula yang merasa puas dengan pengalaman mereka. Salah satunya Rizki, yang menyebut bahwa naik Macito menjadi pengalaman menyenangkan dan penuh manfaat. “Awalnya cuma tahu jalannya, sekarang jadi tahu nama-nama jalan dan gedung yang jadi ikon Malang,” katanya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Bus Macito masih menjadi fasilitas wisata yang patut diapresiasi. Jika ke depan evaluasi dari pengunjung bisa ditindaklanjuti dengan perbaikan kecil, bukan tidak mungkin Macito akan menjadi model transportasi wisata kota yang lebih ideal dan interaktif di masa mendatang. (run)
Editor : A. Nugroho