RADAR MALANG – Jalan Zainul Arifin, yang terletak di kawasan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, bukan hanya menjadi jalur penting di pusat kota. Di sepanjang jalan ini, berjejer kuliner legendaris yang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Malang. Mulai dari nasi bhuk khas Madura, bakso, hingga rawon legendaris, semua hadir dalam satu kawasan yang selalu ramai pengunjung setiap harinya.
Bagi pecinta kuliner, kawasan ini bisa disebut sebagai “surga rasa” karena pilihan makanannya yang beragam, terjangkau, dan memiliki nilai sejarah. Tidak hanya sekadar makanan, setiap warung atau rumah makan di jalan ini menyimpan cerita panjang tentang tradisi, keluarga, hingga perkembangan kuliner Malang.
Nasi Bhuk Madura Hj. Latifa
Salah satu kuliner yang cukup populer di kawasan ini adalah Nasi Bhuk Madura Hj. Latifa. Berlokasi di Jl. Zainul Arifin No.111, warung ini menyajikan nasi bhuk khas Madura yang lengkap dengan lauk pauk melimpah. Mulai dari daging, ayam, sambal, hingga sayuran, semuanya tersaji dalam satu porsi dengan harga Rp 25–50 ribu per orang.
Tempat ini sudah menjadi tujuan banyak pelanggan tetap. Meski ulasannya di Google Maps mencatat 4,1 bintang dari 15 ulasan, banyak yang menyebut bahwa cita rasa nasi bhuk Hj. Latifa mampu mengobati rindu akan kuliner khas Madura. Warung ini buka mulai pagi pukul 06.00 dan cocok menjadi pilihan sarapan bagi warga Malang maupun pendatang.
Bakso Solo KesenenganKu
Tidak jauh dari lokasi nasi bhuk, tepatnya di Jl. Zainul Arifin No.94, terdapat warung Bakso Solo KesenenganKu. Dengan rating 4,2 dari 73 ulasan, tempat ini menyajikan bakso khas Solo yang gurih dengan kuah hangat. Harga yang ditawarkan cukup ramah di kantong, menjadikannya pilihan favorit mahasiswa hingga pekerja kantoran di sekitar pusat kota.
Warung ini buka hingga pukul 19.00, sehingga sering menjadi pilihan makan siang dan makan sore. Keberadaan bakso Solo di tengah Malang juga mencerminkan kekayaan ragam kuliner Nusantara yang saling mengisi.
Rumah Makan Inggil
Jika ingin merasakan suasana lebih eksklusif dengan nuansa budaya Jawa, pengunjung bisa menuju ke Rumah Makan Inggil di Jl. Zainul Arifin No.53 A-B. Restoran ini sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Malang dengan sajian khas Jawa yang otentik.
Dengan rating 4,5 dari 296 ulasan, Inggil menawarkan pengalaman makan yang berbeda karena menghadirkan interior bernuansa tradisional, lengkap dengan dekorasi seni dan budaya Jawa. Harga menu berkisar Rp 50–75 ribu per orang, menjadikannya cocok untuk keluarga atau tamu dari luar kota yang ingin merasakan cita rasa sekaligus suasana Jawa yang kental.
Rawon Nguling
Tak jauh dari Inggil, berdiri megah Rawon Nguling di Jl. Zainul Arifin No.62. Tempat ini mungkin menjadi kuliner paling legendaris di kawasan tersebut. Dengan lebih dari 7.800 ulasan di Google Maps dan rating 4,5, Rawon Nguling sudah menjadi ikon kuliner Malang sekaligus Jawa Timur.
Rawon dengan kuah hitam pekat yang khas, daging empuk, dan sambal pedasnya sudah melegenda sejak lama. Harganya relatif terjangkau, sekitar Rp 25–50 ribu per porsi. Restoran ini buka hingga pukul 16.00 dan hampir selalu dipenuhi pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan. Tidak jarang, Rawon Nguling menjadi destinasi wajib bagi mereka yang singgah ke Malang.
Pecel Pincuk Kopi Pring Al Studio
Satu lagi kuliner unik yang pernah hadir di jalan ini adalah Pecel Pincuk Kopi Pring Al Studio di Jl. Zainul Arifin No.52. Meski kini statusnya disebut “mungkin sudah tutup”, kehadirannya pernah menambah warna kuliner di kawasan ini. Pecel dengan bumbu kacang khas dipadukan dengan nuansa sederhana pincuk daun pisang, membuatnya berkesan bagi pelanggan yang sempat mampir.
Pusat Kuliner yang Lengkap
Melihat deretan pilihan tersebut, Jalan Zainul Arifin layak disebut sebagai pusat kuliner khas Malang dan Jawa Timur. Dari yang sederhana seperti nasi bhuk dan bakso, hingga yang mewah seperti Inggil dan legendaris seperti Rawon Nguling, semuanya tersedia di satu jalur. Tidak heran kawasan ini selalu ramai setiap hari, baik siang maupun malam.
Lebih dari sekadar tempat makan, kuliner di Jalan Zainul Arifin menjadi bagian dari sejarah kota Malang. Banyak tempat yang berdiri sejak puluhan tahun lalu, tetap bertahan dengan racikan resep yang diwariskan lintas generasi. Ke depan, keberadaan kuliner ini bisa menjadi daya tarik wisata yang memperkaya pengalaman pengunjung Kota Malang. (id)
Editor : A. Nugroho