Menyelami Makna Makanan pada Tradisi Rebo Wekasan di Malang

A. Nugroho • Dipublikasikan Rabu, 3 September 2025 | 21:21 WIB

 

Makanan dalam tradisi Rebo Wekasan di Malang menyimpan makna spiritual sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Makanan dalam tradisi Rebo Wekasan di Malang menyimpan makna spiritual sekaligus mempererat kebersamaan warga.

 

 

RADAR MALANG – Tradisi Rebo Wekasan menjadi salah satu warisan budaya yang masih terjaga hingga kini, termasuk di Malang. Perayaan yang jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Safar ini dipercaya sebagai momen untuk memohon perlindungan dari bala atau musibah.

Di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Malang, masyarakat masih rutin menggelar acara keagamaan di masjid, mushala, atau rumah-rumah warga. Rangkaian kegiatan biasanya dimulai dengan shalat sunnah, dzikir, tahlilan, doa bersama, hingga selamatan. Selain sarat dengan nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Yang menarik, dalam setiap pelaksanaan Rebo Wekasan, makanan selalu hadir sebagai bagian penting dari ritual. Hidangan yang tersaji tidak hanya sekadar untuk disantap bersama, melainkan juga memiliki simbol dan makna filosofis yang diyakini membawa doa serta harapan baik bagi masyarakat.

Jenang Sapar

Salah satu hidangan khas yang identik dengan Rebo Wekasan adalah Jenang Sapar. Bubur ini terbuat dari campuran tepung beras yang dilengkapi bola-bola ketan kenyal, lalu disiram dengan kuah santan gurih. Rasanya manis legit dan cocok disantap ramai-ramai seusai doa bersama.

Di beberapa daerah, Jenang Sapar juga dikenal dengan nama jenang grendul. Makanan ini dipercaya melambangkan keselamatan serta menjadi simbol tolak bala. Di Malang, jenang ini sering dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah dan ungkapan rasa syukur.

Kue Apem

Selain jenang, kue apem juga menjadi sajian wajib. Terbuat dari tepung beras, singkong, ragi, serta air kelapa, apem biasanya disajikan bersama kuah gula merah atau kinca. Filosofinya sangat dalam, yakni sebagai simbol rasa syukur, permohonan ampun, serta harapan agar dosa diampuni.

Warga Malang yang masih menjaga tradisi ini meyakini bahwa berbagi kue apem dapat mempererat hubungan sosial, sekaligus menjadi wujud kerendahan hati.

Lemper

Hidangan lain yang kerap hadir adalah lemper. Terbuat dari ketan yang diisi ayam atau tape lalu dibungkus daun pisang, lemper dimaknai sebagai simbol hati yang lurus dan niat yang tulus.

Bahkan di beberapa daerah Jawa, lemper dipercaya mampu menangkal marabahaya. Di Malang, lemper kerap dibagikan dalam acara selamatan sebagai tanda persaudaraan dan kebersamaan.

Ketupat

Tak kalah penting, ketupat juga hampir selalu hadir dalam tradisi Rebo Wekasan. Selain enak disantap dengan lauk seperti opor ayam atau sayur labu, ketupat memiliki makna simbolis kebersamaan dan perlindungan dari bencana.

Biasanya ketupat dijadikan bagian dari sedekah makanan yang dibawa warga ke masjid atau mushala. Dari situlah tercipta kebersamaan yang semakin memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Nasi Tumpeng

Sebagai puncak hidangan, nasi tumpeng hampir selalu menjadi ikon selamatan. Bentuk kerucutnya dianggap sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan, dengan puncaknya yang mengarah ke atas melambangkan doa dan pengharapan.

Di Malang, nasi tumpeng biasanya ditempatkan di tengah-tengah, dikelilingi lauk pauk, sebelum akhirnya disantap bersama-sama. Momen ini bukan hanya menjadi simbol syukur, tetapi juga penegas bahwa semua doa dipanjatkan bersama demi keselamatan warga.

Lebih dari Sekadar Hidangan

Tradisi Rebo Wekasan di Malang memperlihatkan bagaimana makanan berperan lebih dari sekadar pengisi perut. Setiap hidangan memiliki makna tersendiri, mulai dari doa keselamatan, simbol persaudaraan, hingga perlambang tolak bala.

Selain itu, makanan juga menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas antarwarga. Dengan berbagi sajian, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga merawat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial.

Meski zaman terus berubah, makna yang terkandung dalam hidangan Rebo Wekasan tetap relevan hingga kini. Di Malang, tradisi ini masih dijaga dengan baik, menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya soal ritual, tetapi juga tentang kebersamaan, doa, dan harapan akan keselamatan. (id)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Berbagai sumber
budaya rebo tradisi