MALANG - Kota Malang memang terkenal dengan udaranya yang sejuk dengan destinasi wisata alam hingga modern yang beragam. Namun, Malang juga menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Deretan bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa masih berdiri kokoh hingga kini. Hal ini tentu memberikan warna tersendiri bagi wajah Kota Malang.
Peninggalan ini bukan hanya sekadar bangunan, melainkan juga saksi bisu perkembangan Malang dari masa ke masa. Melalui bangunan-bangunan bersejarah tersebut juga, masyarakat Malang menyimpan nilai perjuangan dari pendahulunya dalam mempertahankan negara. Tidak heran jika bangunan-bangunan tersebut kini juga menjadi daya tarik wisata sejarah yang wajib dikunjungi.
1. Balai Kota Malang
Balai Kota Malang terletak di Jalan Tugu Nomor 1, tepat di pusat kota dan menjadi salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling ikonik. Gedung ini dibangun pada tahun 1929 oleh arsitek Belanda dengan gaya arsitektur Art Deco yang megah dan simetris.
Tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kota Malang hingga saat ini, Balai Kota Malang juga menjadi landmark bersejarah yang memancarkan nuansa klasik Eropa. Keindahannya semakin lengkap karena juga berada di satu wilayah Tugu Malang yang dikelilingi oleh kolam dan air mancur. Menjadikannya spot favorit untuk berfoto atau sekadar menikmati suasana kota.
2. Gereja Kayutangan
Gereja Hati Kudus Yesus, yang lebih dikenal sebagai Gereja Kayutangan, berdiri di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 5, kawasan Kayutangan. Dibangun pada tahun 1905, gereja ini menjadi salah satu gereja Katolik tertua di Malang.
Bangunannya menonjol dengan menara menjulang tinggi, kaca patri berwarna-warni, serta interior khas Eropa yang masih terjaga keasliannya. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, gereja ini juga menjadi saksi perjalanan sejarah Kota Malang dan magnet bagi wisatawan yang tertarik pada wisata religi maupun arsitektur ala kolonial.
3. Ijen Boulevard
Jalan Besar Ijen atau Ijen Boulevard berlokasi di kawasan Oro-Oro Dowo dan menjadi salah satu distrik bersejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Kawasan ini dirancang sebagai perumahan elit untuk warga Belanda dengan deretan rumah megah bergaya Indische dan Art Deco, lengkap dengan halaman luas dan pohon palem yang berjajar rapi di sepanjang jalan.
Hingga kini, kawasan ini tetap terawat dengan baik dan menjadi simbol tata kota kolonial yang tertib dan asri. Tak heran, jalan yang satu ini mungkin menyimpan banyak kenangan khusus bagi warga Malang atau perantau. Setiap tahun, Ijen Boulevard juga menjadi panggung utama Malang Flower Carnival dan juga menjadi lokasi Car Free Day yang rutin dilaksanakan di akhir pekan.
4. Stasiun Kota Lama Malang
Stasiun Kota Lama Malang berada di Jalan Trunojoyo No. 17, Sukun, dan sudah berdiri sejak 1879. Pada masanya, stasiun ini menjadi salah satu pusat transportasi penting yang menghubungkan Malang dengan kota-kota besar lain di Jawa Timur. Bangunannya juga bergaya kolonial sederhana dengan dinding tebal dan jendela besar khas Eropa.
Meski sebagian sudah direnovasi, nuansa klasik masih terasa kuat ketika memasuki area ini. Selain menyimpan kisah panjang perkembangan perdagangan dan mobilitas di Malang, Stasiun Kota Lama juga masih melayani perjalanan kereta api hingga kini
5. Tugu Malang
Monumen Tugu Malang atau Tugu Bundaran, terletak di Jalan Tugu, tepat di depan Balai Kota Malang. Tugu ini dibangun pada masa Belanda sebagai bagian dari tata kota yang simetris, yakni Balai Kota, Tugu, dan Alun-Alun Tugu saling berhadapan dalam satu garis lurus.
Area ini dikelilingi taman berbentuk lingkaran dengan kolam teratai yang menambah keindahan suasananya. Hingga kini, Tugu Malang bukan hanya menjadi simbol kota, tetapi juga destinasi populer untuk sekadar bersantai atau berfoto, terutama saat bunga teratai bermekaran di pagi hari atau ketika air mancur sedang beroperasi.
Dengan menjaga dan melestarikan warisan ini, Malang tidak hanya merawat arsitektur klasiknya. Namun juga mengingatkan generasi sekarang akan nilai sejarah yang membangun wajah Kota Malang hingga seperti sekarang. (kdk)