Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Panjang Gedung Sarinah Malang, dari Rumah Bupati Hingga Pertokoan Legendaris

A. Nugroho • Kamis, 11 September 2025 | 20:47 WIB
Gedung Sarinah Malang menyimpan sejarah panjang. Dari rumah bupati masa lalu hingga menjadi pertokoan legendaris, bangunan ini tetap menjadi saksi perkembangan kota Malang.
Gedung Sarinah Malang menyimpan sejarah panjang. Dari rumah bupati masa lalu hingga menjadi pertokoan legendaris, bangunan ini tetap menjadi saksi perkembangan kota Malang.

 

 

 

RADAR MALANG – Di jantung Kota Malang, berdiri sebuah bangunan yang sudah tidak asing bagi masyarakat. Gedung Sarinah, yang berada tepat di sudut Jalan Basuki Rahmat dan Merdeka Utara, menghadap langsung ke Alun-Alun, menyimpan kisah panjang perjalanan kota ini. Banyak orang mengenalnya sebagai pusat perbelanjaan, tetapi tidak semua tahu bahwa gedung ini sejatinya adalah saksi perubahan zaman sejak era kolonial hingga sekarang.

Bangunan ini menjadi salah satu penanda bagaimana Kota Malang berkembang. Dari tempat tinggal seorang bupati, berganti fungsi menjadi ruang hiburan elit kolonial, lalu sempat menjadi lokasi sidang penting di awal republik berdiri. Setelah itu, puluhan tahun kemudian, berdiri kembali dalam wujud pusat pertokoan modern yang sempat menjadi kebanggaan warga Malang. Perjalanan panjang ini membuat Sarinah tidak bisa dilepaskan dari ingatan kolektif masyarakat.

Hingga kini, nama Sarinah masih akrab di telinga banyak orang. Meski popularitasnya tidak setinggi pusat belanja baru yang bermunculan di kota, bangunan ini tetap hadir sebagai simbol yang kuat. Ia menyimpan jejak sejarah, identitas, dan kenangan, yang menjadikannya lebih dari sekadar tempat belanja biasa.

Gedung Sarinah pertama kali dibangun pada tahun 1820. Saat itu, bangunan ini berfungsi sebagai rumah dinas Bupati Malang pertama, Raden Toemenggeong Notodiningrat. Setelah sang bupati wafat pada 1839, bangunan tersebut kemudian diambil alih oleh pihak Belanda. Pemerintah kolonial mengubahnya menjadi Societeit Concordia, sebuah tempat hiburan dan pertemuan khusus untuk kalangan elit. Di sana, para pejabat Belanda dan bangsawan Eropa biasa menghabiskan waktu dengan berdansa, bermain billiard, atau sekadar bercengkerama. Dari titik inilah kawasan sekitar Alun-Alun mulai menjelma sebagai pusat kehidupan sosial di Malang.

Namun, selepas Indonesia merdeka, gedung ini memasuki babak baru yang jauh berbeda. Pada Februari hingga Maret 1947, Sarinah menjadi lokasi Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sidang ini sangat penting karena menjadi cikal bakal terbentuknya lembaga legislatif, yang kelak dikenal sebagai DPR RI. Keberadaan sidang di Malang menunjukkan betapa strategisnya kota ini di masa awal kemerdekaan. Sayangnya, pada masa Agresi Militer Belanda, bangunan tersebut dibakar habis sebagai bagian dari strategi bumi hangus, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Sejak saat itu, bangunan lama yang bersejarah lenyap dari pandangan, menyisakan kenangan pada generasi yang pernah menyaksikannya.

Baru pada tahun 1970-an, Gedung Sarinah bangkit kembali dengan wajah berbeda. Pembangunan gedung baru dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan pihak swasta. Gedung itu dirancang dengan konsep pertokoan modern yang kala itu masih jarang ditemukan di Malang. Warga menyambutnya dengan antusias karena Sarinah menjadi salah satu pusat perbelanjaan besar pertama di kota ini. Ada empat lantai yang disediakan dengan fungsi berbeda-beda. Lantai satu digunakan untuk supermarket dan toko pakaian, lantai dua untuk perlengkapan kantor, sementara lantai atas difungsikan sebagai ruang serbaguna dan restoran.

Memasuki era 1990-an, popularitas Sarinah makin menguat setelah diperluas dan diresmikan ulang. Beberapa tenant besar masuk, seperti Hero Supermarket, McDonald’s, hingga bioskop Movimax. Kehadiran tenant-tenant ini membuat Sarinah menjadi tujuan favorit keluarga, pelajar, hingga wisatawan yang datang ke Malang. Kala itu, pusat perbelanjaan ini menjadi salah satu ikon gaya hidup modern masyarakat kota.

Namun, seiring perkembangan zaman, Sarinah tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Kehadiran pusat belanja baru di berbagai sudut kota membuat pengunjung perlahan berkurang. Meski begitu, Sarinah tetap berusaha bertahan dengan melakukan sejumlah renovasi. Salah satunya adalah penyederhanaan bentuk monumen KNIP di halaman gedung, agar lebih ringkas dan mudah dirawat. Hingga sekarang, lantai satu masih dipakai sebagai kawasan ritel, lantai tiga berfungsi untuk kafe dan bioskop, sementara lantai dua direncanakan menjadi lokasi kegiatan pedagang pascakebakaran Malang Plaza.

Gedung Sarinah kini memang tidak semeriah dulu. Tetapi, nilai sejarah yang melekat di setiap sudutnya tidak bisa digantikan oleh bangunan baru. Ia adalah saksi hidup perjalanan Malang dari masa ke masa. Dari rumah seorang bupati, tempat hiburan elit kolonial, ruang sidang penting republik, hingga berubah menjadi pusat perbelanjaan, semua peran itu dijalani oleh satu bangunan yang sama.

Bagi warga Malang, Sarinah adalah lebih dari sekadar tempat belanja. Ia adalah penanda zaman, pengingat akan perjuangan, sekaligus bukti bagaimana kota ini tumbuh dan berubah. Meski kini banyak pusat perbelanjaan modern bermunculan, Sarinah tetap menyisakan ruang di hati masyarakat. Keberadaannya menjadi cerita yang tidak lekang oleh waktu, sebuah warisan sejarah yang terus berdiri di tengah hiruk-pikuk Kota Apel. (id)

Layanan Servis Terjamin dan Terpercaya, Yamaha
Layanan Servis Terjamin dan Terpercaya, Yamaha
Layanan Servis Terjamin dan Terpercaya, Yamaha
Layanan Servis Terjamin dan Terpercaya, Yamaha
Editor : A. Nugroho
#sejarah #malang #sarinah