TUMPANG – Salah satu candi peninggalan Kerajaan Singosari, Candi Kidal, kini sepi pengunjung. Meski menyimpan nilai sejarah penting dan menjadi inspirasi motif Batik Garudeya, candi yang terletak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, itu kini hanya dikunjungi segelintir orang.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan, Sabtu siang (5/10), suasana Candi Kidal tampak lengang. Dalam waktu sekitar 30 menit, hanya terlihat enam pengunjung memasuki kawasan candi. ”Sebulan saja pengunjungnya tidak sampai 100 orang,” ujar Yusmiarso, juru pelihara Candi Kidal saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, beberapa tahun lalu masih ada wisatawan asing yang datang, mulai dari Jerman, Perancis, hingga Belanda. Namun saat ini mayoritas pengunjung hanya warga lokal dari Kabupaten dan Kota Malang.
Meski sepi wisatawan umum, Candi Kidal masih kerap didatangi umat Hindu dan penghayat kepercayaan yang menjalankan ritual peribadatan. Jumlahnya bisa mencapai 50 orang dalam satu rombongan. Uniknya, prosesi ibadah kadang dilakukan malam hari. ”Mereka datang sekitar pukul 22.00. Tidak masalah walaupun tidak ada lampu sorot. Mereka membawa lilin sendiri,” tambah Yusmiarso.
Dari sisi perawatan, Candi Kidal sebenarnya sudah mengalami pemugaran sekitar empat tahun lalu. Beberapa batu lapuk diganti, termasuk perbaikan penangkal petir di bagian atap. Namun perbaikan itu belum cukup untuk mengangkat kembali pamor candi yang dulunya menjadi tempat pendharmaan Raja Anusapati tersebut.
Yusmiarso menyayangkan perhatian publik terhadap Candi Kidal masih kalah dibanding dua candi lain di wilayah Tumpang dan Singosari. ”Padahal dari Candi Kidal ini, motif Garudeya yang jadi simbol negara dan motif batik nasional terinspirasi. Arca-arca di samping candi itu ikonik,” tegasnya.
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah daerah atau pengelola pariwisata untuk mengembangkan kembali potensi Candi Kidal sebagai destinasi sejarah dan budaya. (biy/adn)
Editor : A. Nugroho