Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menilik Ampo Tuban, Camilan Tanah Liat yang Menyimpan Sejuta Cerita

A. Nugroho • Sabtu, 1 November 2025 | 01:00 WIB
UNIK: Ampo Tuban, camilan tanah liat legendaris yang memiliki rasa unik dan kaya akan filosofi
UNIK: Ampo Tuban, camilan tanah liat legendaris yang memiliki rasa unik dan kaya akan filosofi

RADAR MALANG — Ampo, camilan tradisional Tuban yang kini mulai diketahui banyak diketahui orang. Camilan ini ternyata penuh akan sejarah, filosofi, dan kepercayaan. 

 

Sejak dahulu, Ampo dipercaya memiliki khasiat kesehatan. Orang Tuban yakin camilan ini bisa meredakan mual, diare, dan gangguan pencernaan ringan. 

 

Bahkan, sebagian masyarakat percaya bahwa Ampo mampu memperkuat tubuh ibu hamil dan membantu mengusir roh jahat. Kepercayaan semacam ini menunjukkan bahwa Ampo bukan hanya makanan, tetapi sudah menjadi sarana spiritual yang melekat dalam masyarakat Tuban.

 

Proses pembuatan Ampo Tuban sendiri cukup menarik. Tanah liat yang dipilih bukan sembarang tanah, melainkan tanah lempung bersih yang telah disterilkan. 

 

Tanah ini diolah hingga menjadi lempengan tipis, kemudian digulung menyerupai silinder kecil dan dipanggang di atas tungku tradisional. 

 

Rasa Ampo yang gurih-hambar mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, terutama generasi muda, namun justru itulah ciri khas yang membuatnya tetap istimewa.

 

Beberapa teori menyebutkan bahwa Ampo muncul sebagai alternatif makanan pada masa-masa sulit, ketika pasokan pangan utama terbatas. 

 

Masyarakat memanfaatkan endapan tanah aluvial dari tepi Sungai Bengawan Solo yang kemudian diolah menjadi camilan. 

 

Praktik mengkonsumsi tanah liat semacam ini sebenarnya tidak hanya ada di Tuban. 

 

Beberapa budaya di dunia juga meyakini manfaat kesehatan dari tanah tertentu, mulai dari meredakan masalah pencernaan hingga menambah mineral tubuh.

 

Pada masa penjajahan, tradisi Ampo semakin populer. Kesulitan memperoleh bahan makanan membuat masyarakat kreatif, dan Ampo menjadi camilan yang dapat diandalkan. 

 

Hingga kini, Desa Bektiharjo tetap menjadi salah satu pusat produksi Ampo yang mempertahankan metode tradisional. 

 

Setiap adonan tanah dicampur dengan air hingga kalis, dibentuk kotak besar, diserut menggunakan bilah bambu atau pisau menjadi gulungan kecil, dijemur, lalu dipanggang di tungku selama 30 menit hingga satu jam.

 

Lebih dari sekadar camilan, Ampo Tuban memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Camilan ini sering hadir dalam berbagai ritual tradisional, seperti sedekah bumi, selametan, atau perayaan panen. 

 

Tradisi ini mengajarkan generasi muda tentang kesabaran, kerja sama, dan penghargaan terhadap leluhur. Dengan setiap gigitan Ampo, mereka tidak hanya menikmati rasa unik, tetapi juga menyerap jejak sejarah dan filosofi yang melekat di dalamnya.

 

Meskipun keberadaannya perlahan tergerus oleh camilan modern, Ampo tetap menjadi simbol identitas kuliner Tuban. Keunikan cara memasak, rasa khas, dan filosofi yang terkandung menjadikannya jembatan antara masa lalu dan masa kini. 

 

(alf)

 

Editor : A. Nugroho
#ampo #kuliner #tradisional #tuban