MALANG – Di tengah hiruk-pikuk kota yang makin padat, segelas dawet dingin bisa jadi jeda kecil yang menenangkan. Malang, dengan udara sejuknya, menyimpan banyak kedai tradisional yang mempertahankan cita rasa khas minuman Jawa ini.
Tanpa perlu ke pasar tradisional, dua tempat berikut menghadirkan sensasi manis, gurih, dan legit yang membuat siapa pun ingin menyeruput perlahan sambil menikmati sore.
Tak hanya soal rasa, dawet di Malang kini hadir dengan suasana yang lebih modern tanpa kehilangan sentuhan klasik.
Ada yang mempertahankan resep turun-temurun, ada pula yang menambahkan inovasi dalam penyajiannya. Keduanya tetap menyegarkan, baik untuk nostalgia maupun sekadar melepas dahaga di tengah hari panas.
- Omah Dawet Ireng
Berlokasi di Jalan Semeru I / 1078, Kauman, Kecamatan Klojen, Omah Dawet Ireng buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Dari depan, tempat ini tampak seperti rumah biasa dengan ornamen kayu dan kursi rotan yang menambah kesan rumahan.
Namun, aroma santan dan gula merah yang tercium dari dapur langsung menarik perhatian siapa pun yang lewat.
Dawet ireng di sini terkenal karena menggunakan bahan alami dari abu jerami yang memberi warna hitam keunguan pada cendolnya.
Kuah santannya kental, sementara gula arennya legit tanpa meninggalkan rasa getir. Saat disajikan dengan es serut, sensasinya segar dan lembut di tenggorokan.
Harga seporsi dawet dibanderol sekitar Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu tergantung topping.
Ada tambahan seperti tape ketan, nangka, hingga alpukat bagi yang ingin kombinasi rasa lebih kaya. Meski sederhana, tempat ini jadi persinggahan favorit banyak pekerja dan mahasiswa yang ingin menutup hari dengan sesuatu yang manis.
- Es Dawet Ayu Segar DJINDHOEL
Terletak di Jalan Kawi Nomor 25, Bareng, Kecamatan Klojen, kedai ini buka dari pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Dari luar, tampilannya modern dengan sentuhan retro yang mengingatkan pada kedai tempo dulu. Nama DJINDHOEL sendiri merupakan plesetan dari kata jadul, menggambarkan konsep klasik yang dikemas segar dan kekinian.
Cita rasa dawet di sini lebih ringan dan tidak terlalu manis. Warna hijau muda dari cendolnya berasal dari daun pandan alami, sedangkan gula arennya berasal dari Blitar yang dikenal beraroma tajam. Kuah santannya encer tapi wangi, membuat perpaduan rasa lebih seimbang dan tidak enek.
Seporsi es dawet dibanderol sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Uniknya, pengunjung bisa memilih versi original atau signature DJINDHOEL yang disajikan dalam gelas besar dengan tambahan es krim kelapa.
Perpaduan klasik dan modern ini menjadikan DJINDHOEL ramai dikunjungi anak muda yang ingin mencicipi cita rasa lawas dengan tampilan kekinian.
Itulah deretan penyedia dawet di Malang yang hadirkan rasa tradisional bisa bikin kamu nostalgia. Ada Omah Dawet Ireng yang berada di Jalan Semeru I / 1078, Kauman, Kecamatan Klojen. Serta Es Dawet Ayu Segar DJINDHOEL yang beralamat di Jalan Kawi Nomor 25, Bareng, Kecamatan Klojen. (dbr)
Editor : A. Nugroho