RADAR MALANG — Ampo merupakan camilan tradisional khas Tuban yang kini mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat. Di balik tampilannya yang sederhana, Ampo menyimpan sejarah panjang, filosofi, serta kepercayaan yang telah hidup turun-temurun.
Sejak zaman dulu, Ampo dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan. Masyarakat Tuban meyakini camilan ini mampu membantu meredakan mual, diare, hingga gangguan pencernaan ringan.
Tak hanya itu, sebagian kepercayaan lokal juga menyebut Ampo dapat memperkuat kondisi tubuh ibu hamil serta berfungsi sebagai penolak gangguan roh halus. Keyakinan ini menunjukkan bahwa Ampo bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari praktik spiritual yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Tuban.
Proses pembuatan Ampo pun terbilang unik dan penuh kehati-hatian. Tanah yang digunakan bukan tanah biasa, melainkan tanah lempung pilihan yang bersih dan telah melalui proses sterilisasi.
Tanah tersebut diolah hingga pipih, kemudian digulung kecil menyerupai silinder, sebelum akhirnya dipanggang menggunakan tungku tradisional.
Cita rasa Ampo yang cenderung gurih dan hambar mungkin terasa asing bagi sebagian orang, terutama generasi muda. Namun justru karakter inilah yang menjadi keistimewaan dan pembeda Ampo dari camilan lainnya.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa Ampo lahir sebagai alternatif pangan pada masa sulit, saat bahan makanan utama sulit diperoleh. Masyarakat memanfaatkan tanah aluvial dari sekitar Sungai Bengawan Solo yang kemudian diolah menjadi makanan.
Tradisi mengkonsumsi tanah liat sebenarnya tidak hanya ditemukan di Tuban. Beberapa budaya di berbagai belahan dunia juga mempercayai tanah tertentu memiliki manfaat kesehatan, mulai dari membantu pencernaan hingga menambah asupan mineral.
Pada masa penjajahan, keberadaan Ampo semakin penting. Keterbatasan bahan pangan membuat masyarakat harus beradaptasi, dan Ampo menjadi salah satu camilan yang bisa diandalkan.
Hingga sekarang, Desa Bektiharjo masih dikenal sebagai sentra produksi Ampo yang setia mempertahankan cara pembuatan tradisional. Tanah dicampur air hingga kalis, dibentuk balok besar, kemudian diserut menggunakan bambu atau pisau menjadi gulungan kecil, dijemur, dan dipanggang di tungku selama 30 menit hingga satu jam.
Lebih dari sekadar makanan ringan, Ampo Tuban memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Camilan ini kerap hadir dalam berbagai ritual adat seperti sedekah bumi, slametan, hingga perayaan panen.
Tradisi tersebut menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda tentang nilai kesabaran, kebersamaan, serta penghormatan terhadap leluhur. Setiap gigitan Ampo bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang menyerap sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Meski kini mulai tersisih oleh camilan modern, Ampo tetap menjadi simbol identitas kuliner Tuban. Keunikan proses pembuatan, cita rasa khas, dan makna budaya yang melekat menjadikannya penghubung antara warisan masa lalu dan kehidupan masa kini. (ly)
Editor : A. Nugroho