Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menjelajah Rasa di Jantung Kota Malang: 5 Wisata Kuliner Ikonik yang Layak Dicoba saat Liburan dan Bisa Buat Lidah Bergoyang

A. Nugroho • Rabu, 31 Desember 2025 | 01:25 WIB
Ilustrasi rawon
Ilustrasi rawon

MALANG — Berjalan kaki di sekitar Alun-Alun Kota Malang bukan sekadar menikmati ruang hijau dan bangunan bersejarah, tetapi juga menyusuri jejak rasa yang telah hidup puluhan tahun. Deretan warung dan rumah makan di kawasan ini menghadirkan pengalaman kuliner yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita, aroma, dan suasana khas pusat kota. Berikut lima rekomendasi wisata kuliner dengan ulasan rasa dan pengalaman makan yang meninggalkan kesan mendalam.

1. Rawon Nguling
Lokasi: Jl. Zainul Arifin No.62, Klojen
Harga: sekitar Rp 30.000–Rp 45.000 per porsi
Begitu memasuki Rawon Nguling, aroma kluwek yang pekat langsung menyergap indera penciuman. Kuah rawon disajikan panas, berwarna hitam legam, dengan lapisan minyak tipis yang menandakan kekayaan rempah. Saat diseruput, rasa gurih yang dalam langsung terasa, diikuti sentuhan pahit khas kluwek yang seimbang dan tidak berlebihan. Potongan daging sapi berukuran besar terasa empuk hingga ke serat, mudah dikunyah tanpa kehilangan tekstur.

Pengalaman makan di sini semakin lengkap dengan nasi putih hangat, sambal yang pedasnya tajam, serta tauge segar yang memberi kontras rasa dan tekstur. Suasana rumah makan yang selalu ramai menghadirkan kesan hidup, seolah setiap meja memiliki cerita sendiri. Meski sering harus berbagi ruang dengan pengunjung lain, kehangatan dan kepuasan rasa membuat waktu menunggu terasa terbayar lunas.

2. Warung Lama H. Ridwan
Lokasi: Jl. Pasar Besar No.16, Klojen
Harga: mulai Rp 15.000–Rp 25.000
Makan di Warung Lama H. Ridwan serasa kembali ke dapur rumah masa lalu. Suasana pasar yang riuh, suara aktivitas jual beli, dan aroma masakan tradisional menjadi bagian dari pengalaman.

Menu rawon dan sate komoh di sini memiliki karakter rasa yang lebih “rumahan”, dengan bumbu yang meresap perlahan dan tidak terlalu tajam, namun kaya lapisan rasa.
Sate komohnya terasa lembut dengan kuah gurih yang ringan, cocok dipadukan dengan nasi hangat. Setiap suapan menghadirkan rasa akrab, sederhana, dan jujur. Duduk di bangku sederhana sambil menikmati hidangan di tengah keramaian pasar memberi sensasi kuliner yang autentik—sebuah pengalaman yang sulit ditemukan di restoran modern.

3. Hok Lay
Lokasi: Jl. KH Ahmad Dahlan No.10, Klojen
Harga: makanan Rp 20.000–Rp 25.000, minuman mulai Rp 13.000

Hok Lay menawarkan pengalaman makan yang penuh nostalgia. Interiornya sederhana, namun justru memperkuat kesan klasik. Minuman Fosco menjadi bintang utama—perpaduan susu dingin dan cokelat yang tidak terlalu manis, lembut di lidah, dan menyegarkan di tengah panas siang kota.

Lumpia dan mi yang disajikan memiliki rasa ringan namun konsisten, cocok sebagai teman ngobrol atau istirahat sejenak setelah berjalan-jalan di sekitar alun-alun. Suasana tenang dengan pengunjung lintas generasi membuat Hok Lay terasa seperti ruang pertemuan kecil tempat kenangan lama dan baru saling bersinggungan.

4. Simpang Raya Malang
Lokasi: Jl. Merdeka Selatan No.5, Kauman
Harga: Rp 25.000–Rp 40.000 per porsi
Masuk ke Simpang Raya, deretan lauk Padang tersusun rapi dan menggoda selera.
Rendang di sini memiliki tekstur empuk dengan bumbu pekat yang meresap hingga ke dalam daging. Setiap gigitan menghadirkan rasa gurih, pedas, dan sedikit manis yang seimbang. Gulai dan ayam pop menjadi pelengkap yang memperkaya pengalaman makan.
Pengalaman bersantap di Simpang Raya terasa ramai dan bersahabat. Hidangan datang cepat, meja-meja terisi keluarga dan rombongan wisatawan, menciptakan suasana hangat khas rumah makan Padang. Porsi yang melimpah membuat tempat ini cocok untuk mengisi tenaga setelah berkeliling pusat kota.

5. Ronde Titoni
Lokasi: Jl. Zainul Arifin No.17, Klojen
Harga: sekitar Rp 10.000–Rp 12.000
Saat malam tiba dan udara Malang mulai dingin, Ronde Titoni menjadi tempat singgah yang menenangkan. Kuah jahe hangatnya memiliki rasa pedas lembut yang perlahan menghangatkan tubuh. Ronde bertekstur kenyal dengan isian kacang memberikan rasa manis yang pas, tidak berlebihan.

Menikmati ronde di sini bukan hanya soal rasa, tetapi juga suasana. Duduk di bangku sederhana sambil menyeruput kuah jahe, ditemani cahaya lampu malam dan lalu lintas kota yang mulai melambat, menciptakan pengalaman kuliner yang intim dan menenangkan. Banyak pengunjung memilih berlama-lama, menjadikan Ronde Titoni sebagai penutup hari yang sempurna.

Wisata kuliner di sekitar Alun-Alun Kota Malang menawarkan lebih dari sekadar makanan. Setiap tempat menyajikan pengalaman yang menyatu dengan suasana kota, menghadirkan rasa, cerita, dan kenangan dalam satu sajian. Dari kuah rawon yang pekat hingga wedang ronde yang menghangatkan, kawasan ini menjadi cermin kekayaan kuliner Malang yang terus hidup di tengah modernitas.
Jika kamu mau, saya bisa:
memperpanjang lagi jadi feature halaman penuh koran,
menyesuaikan gaya bahasa koran lokal atau nasional, atau
mengubahnya menjadi liputan wisata akhir pekan.

Editor : A. Nugroho
#malang #kuliner #pengalaman kuliner #alun-alun kota malang