Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menikmati Sensasi Membatik dengan Cara Unik, Bisa Berkarya sambil Ngopi di Kafe Kota Malang

Aditya Novrian • Minggu, 4 Januari 2026 | 13:09 WIB
JADI RUJUKAN: Kondisi Kedaily Coffee pada pagi hari sebelum buka. Pemilik kafe menawarkan konsep ngopi sambil membatik yang bisa dinikmati pengunjung.
JADI RUJUKAN: Kondisi Kedaily Coffee pada pagi hari sebelum buka. Pemilik kafe menawarkan konsep ngopi sambil membatik yang bisa dinikmati pengunjung.

TEMPAT yang menawarkan konsep membatik sambil ngopi adalah Kedaily Coffee di Jalan Mawar, Lowokwaru. Founder Kedaily Coffee Syahrer Dwi Utomo mengaku sudah membuka kedai sejak 2019.

Namun, seiring jamannya kedai kopi semakin banyak dan kompetitif, ia merasa perlu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ide itu lahir pada 2024, saat kedai berkolaborasi dengan salah satu galeri batik lokal.

”Kami ingin menciptakan pengalaman baru yang bukan sekadar ngopi, tapi juga belajar seni sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya.

UNIK: Dua pengunjung Kedaily Coffee menikmati hidangan kopi sekaligus membatik pekan lalu.
UNIK: Dua pengunjung Kedaily Coffee menikmati hidangan kopi sekaligus membatik pekan lalu.

Konsep membatik di Kedaily Coffee bukan hanya soal menorehkan motif di kain. Pelanggan dibimbing langsung mengenai teknik membatik, tata cara penggunaan canting, hingga proses pewarnaan.

Sesi ini juga dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan membuka relasi baru bagi pengunjung. Untuk motif, Kedaily menawarkan dua pilihan khusus yang selaras dengan konsep kopi. Motif gelas kopi (cup) dan motif teko (kettle).

Semua alat, mulai dari canting, pewarna, hingga kain sudah disediakan. Pelanggan bisa memilih dua paket membatik. Paket mewarnai seharga Rp50 ribu, yang sudah menyediakan pola batik cap sehingga tinggal diberi pewarna, dan paket mencanting seharga Rp60 ribu, di mana pelanggan membuat motif secara manual.

Durasi pengerjaan bervariasi. Paket mewarnai biasanya membutuhkan 1–2 jam, sedangkan paket mencanting bisa sampai 3 jam.

”Hasil membatik tidak bisa dibawa pulang langsung, karena masih ada tahap lanjutan yang memakan waktu dua hari. Pelanggan bisa mengambilnya setelah kami konfirmasi atau mengirimkannya untuk yang dari luar kota,” jelas Syahrer.

Minat masyarakat terhadap pengalaman ini cukup tinggi. Anak muda dan keluarga menjadi mayoritas pengunjung, yang ingin memanfaatkan kesempatan ini sebagai waktu berkualitas bersama. Bahkan, kadang pelanggan perlu melakukan reservasi terlebih dahulu agar bisa memilih jadwal yang sesuai.

Fenomena ngopi sambil membatik ini menunjukkan bagaimana kreativitas bisnis lokal bisa menghadirkan pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus edukatif, sambil tetap melestarikan budaya tradisional. (ori/adn)

Editor : A. Nugroho
#budaya tradisional #Kopi #batik #malang