Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cara Tak Lazim ala Junaedi Membangun Keakraban dengan Pembeli, Pelanggan Harus Bisa Menghitung Harga Pesanan Sendiri

Aditya Novrian • Selasa, 27 Januari 2026 | 10:17 WIB
HITUNG SENDIRI: Junaedi (kanan) melayani pembeli di warungnya kemarin. Seluruh pembeli yang datang ke sana harus bisa menghitung harga pesanan sendiri.
HITUNG SENDIRI: Junaedi (kanan) melayani pembeli di warungnya kemarin. Seluruh pembeli yang datang ke sana harus bisa menghitung harga pesanan sendiri.

PAGI belum benar-benar panas ketika suara penggorengan mulai mendominasi sebuah sudut permukiman. Bau minyak panas bercampur aroma ayam goreng tercium dari sebuah bangunan sederhana berukuran sekitar 4x4 meter.

Lantainya beralas karpet biru, bangunannya menyerupai warung kecil tanpa banyak ornamen. Namun, sejak pukul 07.00 tempat itu hampir tak pernah sepi. Di sanalah Junaedi yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Jun menghabiskan hari-harinya.

Di sela-sela menggoreng ayam dan menyendok nasi, Bang Jun melontarkan pertanyaan yang membuat sebagian pelanggan tersenyum. Sebagian lainnya tampak berpikir keras. Bukan soal hidup, bukan pula tebak-tebakan receh.

Bang Jun bertanya soal harga. Berapa total yang harus dibayar dari sepiring nasi, ayam, tahu, tempe, kulit, atau kol goreng yang baru saja disantap. Warung nasi itu berdiri sejak 2018. Sejak awal, Bang Jun memang tak pernah berniat membuka usaha yang kaku. Mayoritas pelanggannya adalah anak kos dan mahasiswa di sekitar lokasi.

Kedekatan itulah yang melahirkan kebiasaan bertanya harga pesanan. Awalnya sekadar bercanda. Lama-lama menjadi ciri khas. Menu di warung Bang Jun tergolong sederhana. Pilihannya tak banyak. Ada ayam goreng, kulit ayam, tahu, tempe, dan kol goreng. Sambal disediakan bebas, bisa diambil sesuai selera.

Harga pun dulu seragam, Rp 10 ribu per porsi nasi. Kesederhanaan itu justru membuat warungnya cepat diterima. Murah, mengenyangkan, dan rasanya konsisten. Pertanyaan soal harga yang dilontarkan Bang Jun bukan dimaksudkan untuk menguji nyali, apalagi mengintimidasi. Ia menyebutnya sebagai bentuk keakraban.

”Awalnya memang karena bercanda sama teman-teman yang makan di sini,” katanya sambil terus melayani pembeli. Namun kebiasaan itu justru ia nikmati. Apalagi ketika warung sedang ramai, ritme pertanyaan menjadi lebih cepat, nyaris seperti kuis dadakan.

Tak sedikit pelanggan yang dengan enteng menjawab. Namun ada pula yang tampak gugup, mengerutkan dahi, bahkan menyerah. Bang Jun sering kali keheranan. Menurutnya, hitungan yang diajukan sangat sederhana. Perkalian harga nasi ditambah lauk.

”Itu pertanyaan simpel saja, harusnya semua orang bisa jawab,” ujar dia. Tantangan muncul ketika pelanggan datang berombongan. Pesanan lebih banyak, hitungan lebih panjang. Saat harga nasi masih Rp 10 ribu, kebanyakan orang masih lancar.

Namun ketika harga naik menjadi Rp 11 ribu akibat kenaikan bahan baku, situasi berubah. Angka ganjil memunculkan kebingungan baru. Tak jarang pelanggan menghitung lebih dulu sebelum membayar. Ada pula yang diam-diam membuka kalkulator di ponsel sebelum Bang Jun bertanya.

Respons pelanggan beragam. Sebagian tetap setia datang, menganggap momen itu sebagai hiburan tambahan. Sebagian lainnya memilih menjauh, mungkin karena enggan berhadapan dengan hitung-hitungan di pagi hari. Bang Jun tak mempersoalkan.

Ia tertawa sambil bercerita bahwa tujuannya sejak awal bukan untuk viral karena hitung-hitungan. Ia ingin dikenal karena rasa masakannya. Menariknya, Bang Jun justru tak menyadari bahwa dirinya belakangan ramai dibicarakan di media sosial.

Aktivitasnya padat. Pagi hingga sore melayani pembeli, sore sampai malam menyiapkan bahan untuk esok hari. Ponsel jarang disentuh. Waktunya lebih banyak habis di depan penggorengan dan dapur.

Soal rasa, Bang Jun menjaga betul kualitas. Ayam gorengnya berwarna golden brown. Bagian luar kering tanpa minyak berlebih, sementara daging di dalam tetap juicy. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 80 hingga 100 kilogram ayam. Angka yang cukup besar untuk warung kecil dengan bangunan sederhana.

Sejak namanya lebih dikenal, jumlah pelanggan memang bertambah. Warung semakin sering penuh. Namun Bang Jun tetap bersikukuh dengan prinsip awal. Ia belum terpikir membuka cabang. Menurutnya, menjaga cita rasa dan kualitas bukan perkara mudah jika harus mengawasi lebih dari satu tempat.

Ia memilih fokus pada satu warung kecil itu. Pada karpet biru, penggorengan yang tak pernah dingin, dan pertanyaan sederhana yang selalu ia lontarkan. Di tengah maraknya usaha kuliner yang berlomba-lomba tampil unik, warung Bang Jun justru bertahan dengan kesederhanaan.

Sepiring nasi hangat, ayam goreng renyah, sambal bebas ambil, dan satu pertanyaan ringan sebelum membayar. Bagi sebagian orang, itu mungkin membuat deg-degan. Namun bagi Bang Jun, itulah cara paling jujur menikmati makan pagi sambil sesekali mengingatkan bahwa berhitung sederhana tak seharusnya jadi momok. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Warung #ayam goreng #ciri khas #malang