Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menengok Aktivitas Nongkrong sambil Membatik yang Tumbuh di Kedaily Coffee, Jadi Cara Mengenalkan Budaya Langsung kepada Pengunjung

Aditya Novrian • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:47 WIB
BEDA DARI YANG LAIN: Pengunjung Kedaily Coffee mengikuti aktivitas membatik sambil menikmati minuman dan berbincang santai di sela waktu nongkrong.
BEDA DARI YANG LAIN: Pengunjung Kedaily Coffee mengikuti aktivitas membatik sambil menikmati minuman dan berbincang santai di sela waktu nongkrong.

AROMA lelehan malam bercampur wangi kopi menyeruak begitu melangkah ke Kedaily Coffee. Di kafe yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta PTP II, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu, suasana sore terasa berbeda dari kedai kopi kebanyakan.

Bukan hanya denting sendok dan percakapan ringan yang terdengar. Tetapi juga konsentrasi para pengunjung yang sibuk memberi warna pada sehelai kain mori.

Di atas meja, bukan kertas gambar atau kanvas yang terhampar, melainkan kain berukuran 35x35 sentimeter. Permukaannya dipenuhi motif yang sudah digaris lelehan malam. Ada bunga, dedaunan, hewan, hingga pola-pola sederhana hasil stilisasi.

Kain-kain itu direntangkan menggunakan paralon di keempat sisinya. Kemudian diikat tali agar tetap tegang dan memudahkan proses pewarnaan.

Di sudut ruangan, Syahrer Dwi Utomo sesekali mendekat ke meja pengunjung. Tangannya lincah mencontohkan cara memegang canting atau memberi arahan soal pemilihan warna. Pria berusia 36 tahun itu adalah pemilik Kedaily Coffee, sekaligus penggagas konsep ngopi sambil membatik yang kini mulai dikenal di Kota Malang.

”Konsep kafe yang benar-benar ada kegiatan membatik kan belum banyak. Dari situ kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, lalu bekerja sama dengan salah satu galeri batik,” ujar Syahrer.

Baginya, membatik di kafe bukan sekadar gimmick. Ada misi memperkenalkan budaya sekaligus menghadirkannya dalam ruang yang dekat dengan anak muda.

Ide tersebut muncul pada Agustus 2024. Kala itu, Syahrer memikirkan cara agar kafenya tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga ruang pengalaman. Anak muda, menurutnya, menyukai hal-hal baru yang bisa dibagikan di media sosial, tetapi tetap memiliki nilai.

Dari sanalah konsep ngopi dan membatik dirintis. Pada tahap awal, ia menggandeng influencer lokal dengan sistem barter untuk memperkenalkan kegiatan tersebut. Perlahan, namanya menyebar dari mulut ke mulut.

Kini, hampir dua tahun berjalan, Kedaily Coffee tak pernah benar-benar sepi peminat yang ingin merasakan sensasi membatik. Namun, Syahrer tetap membatasi jumlah peserta. Ruang yang tersedia hanya mampu menampung belasan orang, baik di area dalam maupun luar ruangan. Karena itu, pengunjung dianjurkan melakukan reservasi terlebih dahulu.

”Datang langsung juga boleh, tapi kadang bersamaan. Kalau penuh malah tidak nyaman, jadi kami sarankan reservasi,” katanya. Dalam sehari, rata-rata lima hingga sepuluh orang ikut membatik. Saat musim liburan, jumlahnya bisa meningkat hingga 15 orang.

Jika peminat membeludak, Syahrer membagi peserta dalam beberapa kloter. Setiap kloter memiliki durasi dua hingga tiga jam. Jika satu kloter sudah penuh, pengunjung diberi pilihan menyesuaikan tempat atau datang di jam berikutnya.

Baginya, kenyamanan menjadi kunci agar pengalaman membatik terasa menyenangkan, bukan terburu-buru. Mayoritas peserta adalah mahasiswa berusia 18 hingga 20-an tahun. Namun, kegiatan ini terbuka untuk semua usia.

Ada yang datang berkelompok, ada pula yang sendirian. Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali memegang canting.

Saat proses dimulai, Syahrer selalu memberikan penjelasan dasar. Mulai dari cara memegang canting agar tangan tidak panas, hingga teknik menorehkan malam agar tidak melebar. Pendampingan ini penting, terutama bagi pemula.

”Masyarakat awam kan banyak yang belum mengerti batik secara mendalam. Jadi kami jelaskan dulu supaya tidak asal mencanting,” ujarnya.

Selain batik tulis, Kedaily Coffee juga menyediakan batik cap. Ada dua pola utama yang ditawarkan, yakni kettle dan cangkir. Pola itu dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Syahrer, motif tersebut merepresentasikan identitas Malang sebagai kota dengan banyak kedai kopi sekaligus daerah penghasil kopi, seperti Dampit dan Arjuno.

”Membatik itu bukan berorientasi hasil, tapi prosesnya. Disebut batik karena ada coletan malamnya,” ucapnya.

Bagi pengunjung yang tidak ingin mencanting, tersedia opsi mewarnai kain yang motifnya sudah dilapisi malam. Mereka tinggal bermain warna sesuai selera, lebih sederhana tetapi tetap memberi kepuasan tersendiri.

Harga reservasi pun dibedakan. Untuk pengalaman mencanting dan mewarnai, pengunjung dikenai Rp 60 ribu. Sementara paket mewarnai saja Rp 50 ribu. Hasil karya boleh dibawa pulang, meski tidak bisa langsung hari itu juga.

Proses pascamembatik membutuhkan waktu panjang. Setelah kain selesai diwarnai, kain harus dijemur hingga kering. Tahap berikutnya adalah penguncian warna menggunakan water glass, cairan bening yang melapisi seluruh permukaan kain. Proses ini ideal dilakukan siang hari agar terkena sinar matahari langsung.

Setelah kering, kain dicuci untuk menghilangkan sisa water glass, lalu dilorot dengan merebusnya di air panas agar malam terangkat sempurna. Setelah itu, kain kembali dijemur hingga kering.

Karena rangkaian proses tersebut, pengunjung dibatasi membatik maksimal pukul 21.00, meski kafe tutup pukul 23.00. Kain hasil karya biasanya baru bisa diambil dua hingga tiga hari kemudian. Bagi pengunjung luar kota, hasil batik bisa dikirim melalui jasa ekspedisi.

Tak hanya batik, Kedaily Coffee juga menawarkan menu khas yang jarang ditemui, yakni cascara. Minuman ini diolah dari kulit biji kopi yang biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk. Di tangan Syahrer, cascara diseduh menjadi minuman segar dengan kafein lebih rendah dibanding kopi.

”Rasanya ringan, kaya antioksidan, dan bagus untuk pencernaan. Cocok buat yang tidak bisa minum kopi,” pungkasnya. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#kafe #Kopi #batik #malang