RADAR MALANG - Puthuk Tritih di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu kini menjadi salah satu tujuan ngabuburit favorit warga. Tempat ini menawarkan kombinasi pemandangan Gunung Panderman, udara pegunungan yang sejuk, serta deretan jajanan berbuka di sepanjang jalan. Menjelang magrib, kawasan tersebut ramai didatangi warga yang ingin menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka.
Akses menuju Puthuk Tritih memberikan pengalaman tersendiri. Pengunjung akan melewati jalan kecil yang membelah hamparan persawahan hijau. Di kejauhan, Gunung Panderman berdiri menjadi latar panorama yang memanjakan mata.
Saat sore hari, suasana di kawasan itu terasa semakin hidup. Angin pegunungan berembus pelan, sementara cahaya matahari mulai meredup di balik perbukitan. Banyak pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk bersantai, berburu foto, atau sekadar menikmati pemandangan.
Salah satunya Ananto Wibowo. Warga Desa Beji, Kecamatan Junrejo itu sengaja datang bersama anak dan istrinya untuk menikmati suasana ngabuburit yang berbeda.
”Senang aja sih di sini hawanya enak. Apalagi pas sore kadang kalau cuacanya bagus langitnya juga bagus banget buat foto,” terangnya.
Menurutnya, Puthuk Tritih menjadi tempat yang praktis untuk menunggu waktu berbuka. Selain dapat menikmati pemandangan, pengunjung juga tidak kesulitan mencari makanan.
Sepanjang jalan menuju spot tersebut, pedagang kaki lima berjejer menawarkan berbagai jenis takjil dan makanan berat. Mulai dari gorengan, minuman segar, hingga sate-satean tersedia dengan harga yang relatif terjangkau.
”Pilihannya banyak, suasananya juga pas kalau mau sekalian ngopi. Yang paling penting, buat ajak keluarga enak banget karena makanannya juga murah-murah," imbuhnya.
Keramaian pengunjung selama Ramadan juga membawa berkah bagi para pedagang. Salah satunya Sholeh, penjual sate-satean yang setiap hari mangkal di kawasan tersebut.
Ia mengaku dagangannya kerap habis sebelum malam tiba. Banyak pengunjung membeli sate sebagai menu berbuka puasa.
”Alhamdulillah jualan di sini lumayan rame meskipun puasa. Sehari bawa sekitar 300 tusuk sate langsung ludes saja," ungkap Sholeh.
Ia menjual berbagai jenis sate, mulai dari sate tahu, pentol, usus, hingga kikil yang menjadi favorit pembeli.
Selama Ramadan, Sholeh juga menyesuaikan waktu berjualannya. Jika biasanya ia sudah datang sejak pukul 15.00, kini ia baru membuka lapak menjelang sore.
”Menyesuaikan waktu mendekati berbuka, sebab yang datang kebanyakan orang sekitar sini saja,” pungkasnya. (ori/adn)
Baca Juga: Humble dan Murah, Warung Makmur Malang Favorit Mahasiswa Malang
Disunting kembali oleh: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian