MALAM baru saja turun ketika langkah kaki memasuki Kafe Golekan di Jalan Bunga Kecilung, Lowokwaru, Kota Malang. Aroma dupa langsung menyergap, tipis namun menusuk, seolah menjadi gerbang pembuka menuju suasana yang tak biasa. Lampu-lampu temaram menggantung redup. Di balik kaca-kaca etalase, ribuan boneka berjajar rapi. Diam. Tapi terasa tidak benar-benar mati.
Di tempat itu, mata-mata plastik seakan mengikuti setiap gerakan. Tatapan kosong yang terlalu lama diperhatikan justru memunculkan rasa tidak nyaman. Beberapa pengunjung mengaku merasakan hal serupa seperti ada yang memperhatikan dari balik diam.
Pemilik kafe, Luciana Febriani, tak menampik kesan tersebut. Baginya, koleksi boneka itu memang bukan sekadar pajangan. Ada cerita, ada ”penghuni”, dan ada interaksi yang kadang tak bisa dijelaskan logika.
Sensasi makin mencekam ketika cerita demi cerita bermunculan. Ada pengunjung yang bersumpah melihat boneka sleeping doll yang awalnya terpejam, perlahan membuka mata saat digendong. Gerakannya halus. Nyaris tak terlihat. Tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri.
Tak hanya itu. Di sudut ruangan yang lebih gelap, seseorang mengaku melihat warna mata sebuah boneka berubah dalam hitungan detik. Dari bening menjadi keruh. Lalu kembali seperti semula. Tak ada yang berani memastikan, apakah itu ilusi atau sapaan.
”Kemungkinan itu cara mereka menyapa orang baru,” kata Luciana. Ia bahkan menganggap kejadian-kejadian tersebut bukan ancaman, melainkan bentuk perkenalan dari penghuni yang ada di dalam boneka.
Salah satu yang paling sering jadi perhatian adalah Samantha. Boneka yang dibeli seharga Rp 5 juta itu dipercaya dihuni sosok anak kecil berusia sekitar sembilan tahun. Dulunya, Samantha disebut kerap mengganggu pemilik sebelumnya. Namun sejak berada di Kafe Golekan, ia disebut lebih tenang tidak lagi agresif, hanya mengamati.
Berbeda dengan Ayuna. Boneka yang diletakkan dekat meja kasir itu menyimpan cerita lain. Sosok di dalamnya dipercaya masuk setelah boneka tersebut dibawa mendaki Gunung Arjuno. Sejak itu, auranya berubah. Lebih berat. Meski begitu, Luciana memastikan tak ada gangguan langsung kepada pengunjung.
Di balik semua cerita itu, ada ritual yang terus dijaga. Setiap hari, dupa dibakar sebagai makanan bagi para penghuni tak kasat mata. Perawatan juga dilakukan seperti merawat manusia. Baju dicuci, rambut disisir, bahkan boneka rusak diperbaiki. (ori/adn)
Editor : A. Nugroho