KOTA MALANG, RADAR MALANG - ADA satu elemen yang justru paling menyita waktu dalam pembuatan butter tteok. Elemen itu adalah saus pendamping. Bukan sekadar pelengkap, saus ini menjadi penentu akhir apa kah kudapan manis itu terasa seimbang atau justru berlebihan.
Piriang Asia misalnya. Tim chef membutuhkan waktu hingga dua sampai tiga minggu untuk riset dan pengembangan. Dari seluruh proses, meracik saus menjadi tahap paling lama. ”Kalau tteok-nya relatif lebih cepat ketemu formulanya, yang sulit itu sausnya,” ujar Ricky Aditya Pratama, Marketing Piring Asia.
Banyak percobaan dilaku kan untuk menemukan rasa yang pas. Terlalu manis membuat enek, terlalu pahit justru menghilangkan karakter butter. Akhirnya, dipilih konsep einspänner, perpaduan vanilla dan kopi yang diperkaya butter. Hasilnya, saus dengan rasa lembut, sedikit pahit, namun tetap menyatu dengan gurihnya tteok. Kombinasi inilah yang kemudian memberi pengalaman berbeda. Dalam satu gigitan, rasa kenyal, manis, dan gurih tidak saling mendominasi. Saus bekerja sebagai penyeimbang, sekaligus memberi lapisan rasa baru.
Sejak diluncurkan akhir Mei, butter tteok di Piring Asia langsung mendapat respons pasar. Pembeli datang dari berbagai usia. Tidak hanya karena tren, tetapi juga karena sensasi rasa yang dianggap berbeda.
Baca Juga: Butter Tteok ala Korea Lagi Viral! Ini Resep Praktis yang Bisa Kamu Coba di Rumah
Meski begitu, produksi masih dibatasi. Dalam sehari, hanya sekitar 20 pack yang disiapkan demi menjaga kualitas. Setiap pack berisi tiga potong butter tteok dengan ukuran cukup besar dan bisa dibeli satuan.
Baca Juga: Pecinta Makanan Korea Merapat! Ini Dia Rekomedasi Spot Makan Tteokbokki di Malang!
Tren boleh datang dan pergi. Namun dari dapur, satu hal terlihat jelas. Kadang yang paling menentukan bukan yang terlihat utama. Pada butter tteok, justru saus pendampinglah yang meng ambil peran paling lama sekaligus paling menentukan. (aff/and)
Editor : A. Nugroho