MALANG, RADAR MALANG - Pada era 1970‑an, orem‑orem bukan sekadar sayur tempe bersantan, melainkan menu wajib hajatan warga Malang yang lahir dari masa serba sulit.
Hidangan berbahan tempe, irisan ayam, kuah santan, dan ketupat ini masih menjadi identitas kuliner khas Malang hingga sekarang.
Kuliner tradisional ini lahir dari dapur hajatan masyarakat Arema pada era 1970-an sebagai menu wajib penghormatan bagi para tamu undangan.
Orem-Orem Berawal dari Hidangan Hajatan Masyarakat Malang
Orem-orem mulai dikenal luas di berbagai kampung Kota maupun Kabupaten Malang sekitar dekade 1970-an ketika menjadi menu utama dalam hajatan keluarga, selamatan, hingga acara syukuran.
Sejumlah sejarawan kuliner Malang menautkan kelahiran orem‑orem dengan periode krisis pangan dan masa pendudukan, ketika warga dipaksa kreatif mengolah tempe dan sisa lauk menjadi menu yang tetap layak dihidangkan bagi tamu.
Kuah santan berwarna kekuningan dipadukan tempe goreng, suwiran ayam, dan ketupat menghasilkan rasa gurih dengan aroma rempah yang kuat.
Menurut sejumlah pelaku kuliner tradisional Malang, penyajian secara gotong royong menjadi bagian penting yang memperkuat nilai sosial orem-orem sebagai makanan kebersamaan.
Filosofi Nama Orem-Orem dan Warisan Kuliner yang Bertahan
Nama "orem-orem" dipercaya berasal dari cara mengaduk atau mencampurkan berbagai bahan hingga menyatu dalam kuah santan yang kaya bumbu.
Proses tersebut melambangkan persatuan masyarakat saat bergotong royong menyiapkan hajatan.
Dari sisi teknik memasak, santan dimasak perlahan agar tidak pecah, sedangkan tempe digoreng lebih dahulu supaya tetap kokoh saat direndam kuah.
Perpaduan daun salam, lengkuas, serai, dan bawang menciptakan aroma hangat yang menjadi ciri khasnya.
Bedah Autentisitas Kuah Santan Encer Khas Arema
Secara teknik, keunikan orem-orem terletak pada penggunaan tempe semangit (hampir busuk) sebagai penguat rasa umami alami, yang dipadukan dengan kunyit, ketumbar, dan santan encer.
Hidangan ini disajikan bersama ketupat padat dan kecambah mentah yang memberikan tekstur renyah saat dikunyah.
Meski demikian, sebagian penjual modern mulai mengurangi penggunaan rempah asli demi mempercepat proses memasak.
Langkah tersebut memang lebih praktis, tetapi berpotensi mengurangi karakter autentik orem-orem.
Editor : Aditya Novrian