MALANG, RADAR MALANG - Orem-orem, hidangan tradisional khas Malang, masih bertahan meski diserbu waralaba modern, resep turun-temurun dan rasa autentik menjadi penopang utama.
Namun, tekanan pemasaran digital dan preferensi generasi muda menuntut warung lokal berinovasi agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas kuliner.
Minat Generasi Muda Menjadi Tantangan Pelestarian Orem-Orem
Persaingan kuliner terjadi hampir di seluruh wilayah Kota Malang.
Orem-orem yang dikenal dengan kuah santan kuning kental, aroma serai dan daun jeruk, serta potongan tempe padat khas Malang masih disajikan di sejumlah warung legendaris.
Hidangan ini umumnya dilengkapi irisan ketupat, tauge, ayam suwir, dan taburan bawang goreng yang menghadirkan perpaduan gurih, sedikit manis, serta rempah yang kuat.
Tantangan muncul ketika generasi muda lebih tertarik pada makanan cepat saji atau menu yang populer di media sosial.
Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku usaha menambahkan lauk seperti telur, mendol, maupun tingkat kepedasan berbeda agar tetap relevan tanpa mengubah karakter utama orem-orem.
Sentuhan Inovasi Demi Memikat Selera Generasi Muda
Kritik terbesar terletak pada keengganan sebagian besar pedagang tua untuk beradaptasi dengan tren visual dan pemasaran digital.
Padahal, kombinasi ketupat, tauge, dan siraman kuah hangat ini memiliki potensi besar jika dikemas secara higienis atau disajikan dengan variasi topping modern tanpa merusak pakem rasa asli.
Pemerintah Kota Malang dan komunitas peduli budaya perlu segera turun tangan memfasilitasi pelatihan manajemen bisnis.
Jika langkah konkret tidak segera diambil, orem-orem Malang hanya akan menjadi catatan sejarah dalam buku menu masa lalu.
Baca Juga: Orem-Orem Malang, Comfort Food Identitas Arema yang Tak Lekang Waktu!
Editor : Aditya Novrian