PONCOKUSUMO – Memasuki hari kesepuluh kebakaran wisata Bromo kemarin (13/8), tim masih berjibaku memadamkan kobaran api. Mereka menargetkan hari ini (14/8) api sudah dipadamkan.
“Targetnya Jumat (hari ini, 14/8) sudah rampung. Tapi lagi-lagi lihat kondisi di lapangan,” ujar Kepala Bidang Kedauratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.
Hingga kemarin, kebakaran terus meluas. Total lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang hangus akibat amukan si jago merah mencapai seribu hektare lebih.
”Per tadi pagi (kemarin, 13/8), total luas area yang terbakar sudah 1.069 hektare,” terang pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Dia menyebut, kebakaran menyasar Probolinggo dan Pasuruan. Untuk area Kabupaten Malang tidak ada yang terjilat api. Pada Rabu (12/8) malam, terpantau api sudah mencapai 2 titik baru. Yakni kawasan Pakis Bincil dan Bukit Cinta yang mengarah ke Sruni Point, Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Pasuruan.
Meskipun tidak ada api di wilayah Bumi Kanjuruhan, Sadono menyebut, tim BPBD Kabupaten Malang masih standby di lokasi untuk melakukan pemadaman api secara manual.
“Mereka membuat sekat bakar serta pembasahan sisa bara api yang terjangkau dengan empat mobil tangki,” sebut dia.
Mereka tidak sendiri. Ada juga dari BPBD Pasuruan dan Probolinggo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan sekitar 540 relawan.
Di samping merelokalisasi area kebakaran, juga ada upaya pemadaman lewat udara. Empat helikopter dari BNPB dan TNI AL terus beroperasi untuk menggerojokkan air di area kebakaran. Pemadaman melibatkan helikopter menggunakan metode water bombing.
Menurut Sadono, bukan perkara mudah untuk melakukan pemadaman dengan metode water bombing. Terutama saat beroperasi malam hari.
“Rabu lalu (11/8) visibilitas malam sangat gelap, terutama di ketinggian 4 ribu kaki. Belum lagi angin yang terkadang kencang,” kata Sadono.
Kabut juga menghalangi petugas dalam hal pemadaman lewat udara itu. Sedangkan untuk suplai air, tim darat mendapati kesulitan jarak pengambilan air. Sementara udara bisa langsung ambil dari Ranu Pani dan Ranu Regulo. Namun operasi tersebut tidak bisa berlangsung lama.(biy/dan)
Editor : Mahmudan