MALANG, RADAR MALANG – Kota Malang memiliki sejumlah peninggalan sejarah berupa candi yang menyimpan jejak peradaban masa lampau. Dua di antaranya adalah Candi Badut dan Candi Karang Besuki yang diperkirakan berasal dari masa yang sama dan berada di kawasan yang berdekatan. Berikut sejarah kedua candi tersebut yang menarik untuk diketahui.
1. Candi Badut
Candi Badut ditemukan pada 1921 oleh Maurer Brecher, seorang kontrolir dari Kantor Pamong Praja Malang. Saat ditemukan, candi dalam kondisi rusak, ditumbuhi pepohonan, dan tertutup tanah. Pemugaran kemudian dilakukan pada 1923–1926 oleh Dinas Purbakala di bawah pimpinan F.D.K. Bosch dan B. de Haan. Candi ini sering dikaitkan dengan Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi, yang menceritakan Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan membangun candi untuk Agastya. Nama Badut ditafsirkan berasal dari kata Liswu yang merujuk pada nama lain Raja Gajayana dan dalam bahasa Sanskerta berarti anak kemidi atau tukang tari, yang dalam bahasa Jawa sepadan dengan kata “badut”.
Saat ini, Candi Badut dalam kondisi tidak utuh dengan halaman berbentuk persegi panjang berukuran 47 x 49 meter. Bangunan menghadap ke barat dan terbuat dari batu andesit dengan pola pasang tidak beraturan. Bagian candi terdiri atas lipit, kaki, tubuh, dan atap, meski bagian tubuh dan atap sudah tidak lengkap. Di depan candi yang diperkirakan dahulu terdapat tiga bangunan kecil, kini hanya tersisa fondasinya. Selain struktur candi dan pagar keliling, terdapat beberapa benda seperti fragmen arca Durga, lingga, dua yoni, dua altar, fragmen arca, dan fragmen arca Nandi.
Upaya pelestarian Candi Badut dilakukan melalui pemugaran, inventarisasi, konservasi secara berkala, serta penempatan juru pelihara. Perlindungan hukum terhadap candi telah dilakukan dengan menetapkannya sebagai cagar budaya sejak 1998.
Lokasi: Jl. Raya Candi V No.5D, Doro, Karangwidoro, Kec. Dau, Kabupaten Malang
2. Candi Karang Besuki
Menurut para ahli sejarah, Candi Karang Besuki diperkirakan sezaman dengan Candi Badut dan berasal dari abad ke-8. Saat pertama ditemukan, bagian kaki candi masih ada. Namun, kini kondisinya semakin tidak utuh dan hanya menyisakan fondasi batu andesit berbentuk bujur sangkar berukuran 6,8 x 6,8 meter yang menghadap ke barat. Di tengah fondasi terdapat reruntuhan berbentuk lingkaran yang diperkirakan sebagai sumuran candi. Selain itu, ditemukan sejumlah benda lepas berupa yoni, arca Ganesha, dan arca Agastya. Keberadaan temuan tersebut menunjukkan bahwa Candi Karang Besuki berlatar belakang agama Hindu.
Candi Karang Besuki diduga berkaitan dengan tempat suci yang disebut dalam bait keempat Prasasti Dinoyo, yakni bangunan untuk memuliakan Resi Agastya yang dipercaya berfungsi sebagai tempat keselamatan. Dugaan ini diperkuat oleh arti nama Karang Besuki yang berarti daerah atau tempat keselamatan. Sementara itu, nama Gasek disebut tiga kali dalam Prasasti Ukir Negara atau Prasasti Pamotoh dari zaman Majapahit. Prasasti tersebut menyebut adanya pemujaan di Gasek serta bangunan suci berupa candi yang telah hancur. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-14, Candi Karang Besuki telah hancur, tetapi masih diakui sebagai tempat suci untuk pemujaan Hindu.
Lokasi: Jl. Raya Candi VI C No.232, Gasek, Karangbesuki, Kec. Sukun, Kota Malang
Editor : Aditya NovrianSumber : Berbagai sumber