MALANG - Ada yang renyah di luar, tetapi lembut dan dingin di dalam. Sensasi itu yang membuat es gabin berbeda dari kudapan es krim pada umumnya.
Bagi sebagian konsumen, daya tariknya bukan sekadar rasa, melainkan pengalaman menyantap biskuit jadul dalam bentuk yang sama sekali berbeda.
Kharisma Suci termasuk yang penasaran. Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) itu pertama kali mengetahui es gabin melalui media sosial. Rasa penasaran kemudian membawanya mencoba sejumlah varian di Lintas Rasa Es Krim Goreng Malang.
Baca Juga: Tren Es Gabin Viral di Malang, Konsepnya Ternyata Diadaptasi dari Graham Bar Filipina
“Saat itu saya mencoba rasa strawberry cheesecake. Perpaduan manis, asam, dan gurihnya sangat pas di mulut,” ungkap perempuan 20 tahun tersebut.
Menurut Suci, perpaduan biskuit dan es krim sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis menghasilkan rasa seimbang. Komposisi keduanya justru menjadi penentu. Jika salah satu terlalu dominan, karakter kudapan bisa berubah.
Gabin memberikan pengalaman berbeda karena teksturnya masih terasa ketika dipadukan dengan es krim. Biskuit tersebut juga dinilainya tidak cepat lembek sehingga sensasi renyah masih bisa dirasakan setelah beberapa waktu.
Rasa yang dicoba Suci pun tidak berhenti pada strawberry cheesecake. Ia mencicipi cookies and cream, matcha, hingga cokelat. Bahkan, beberapa kedai es gabin sempat didatanginya untuk membandingkan karakter masing-masing produk.
Perbedaan itu cukup terasa. Ada es gabin dengan isian yang lebih milky karena menggunakan produk es krim tertentu. Ada pula yang terasa lebih ringan karena menggunakan racikan homemade.
Baca Juga: Kriuk Lembut! Ini 4 Tempat Beli Gabin di Malang dengan Varian Rasa Unik
Dari sisi harga, kudapan tersebut relatif mudah dijangkau. Satu porsi dibanderol sekitar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu. Bagi Suci, harga itu sebanding dengan pengalaman yang ditawarkan.
“Sebagai pecinta es krim pasti saya akan sering membelinya karena punya sensasi yang berbeda dari es krim kebanyakan,” jelasnya.
Fenomena tersebut menunjukkan gabin mulai bergeser dari citra camilan lama menjadi bagian dari tren dessert. Biskuit yang dulu identik dengan isian sederhana kini justru mendapat ruang baru melalui kombinasi rasa, tekstur, dan tampilan yang lebih dekat dengan selera konsumen muda.
Editor : Aditya N. Rian