Booming Es Gabin di Kalpataru, Jastip Jadi Andalan Pelajar Malang

Antik Widaya Gita Asmara • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:39 WIB
IKUTI TREN: Tren es gabin juga diikuti Toko Gabin Ice yang terletak di Jalan Kalpataru,Lowokwaru, Kota Malang
IKUTI TREN: Tren es gabin juga diikuti Toko Gabin Ice yang terletak di Jalan Kalpataru,Lowokwaru, Kota Malang

MALANG – Tren es gabin tidak hanya terlihat dari munculnya berbagai varian rasa. Di sejumlah penjual, permintaan mulai membentuk pola baru. Ada pembeli yang datang langsung, memesan melalui layanan antar, hingga menggunakan jasa titip (jastip) agar bisa membeli dalam jumlah banyak.

Pola tersebut dirasakan Dinda Lovyana, penjual es gabin di Jalan Kalpataru, Kota Malang. Lokasi usahanya yang berada di sekitar SMAN 7 Malang membuat pelajar menjadi salah satu kelompok konsumen terbanyak. “Paling sering remaja dari SMA,” katanya.

Pesanan dalam jumlah besar umumnya datang dari anak sekolah melalui sistem jastip. Beberapa pembeli mengumpulkan pesanan teman-temannya, kemudian satu orang mengambil atau menerima seluruh produk. Sementara pembelian.

satuan lebih banyak masuk melalui layanan pesan antar online. Saat ini Dinda menyediakan sembilan varian rasa. Jumlah tersebut bertambah dari awal usaha yang hanya menawarkan empat pilihan. Salah satu kreasi terbarunya adalah Black Forest dengan tambahan selai dark cherry. Namun, Cookies and Cream menjadi varian yang paling cepat habis.

Baca Juga: Jajanan Es Gabin Buat Kudapan Jadul Kembali Eksis, Setiap Gigitan Buat Nostalgia

ANEKA RASA: Beragam rasa es gabin disajikan Dessert by Zee. Inspirasi jualan adalah meniru konsep  graham bar di Filipina.
ANEKA RASA: Beragam rasa es gabin disajikan Dessert by Zee. Inspirasi jualan adalah meniru konsep graham bar di Filipina.

Perpaduan es krim vanilla dengan remahan Oreo itu bisa diproduksi hingga 40 potong sehari. Varian lain rata-rata dibuat sekitar 20 potong per rasa. “Kalau per hari biasanya bikin per rasa 20 potong. Untuk lakunya sekitar 80-an,” ujarnya.

Permintaan juga datang dari pelanggan lama. Di platform Shopee, Dinda menemukan sejumlah konsumen yang melakukan repeat order hampir setiap hari. Es gabin miliknya dibanderol Rp12 ribu per porsi. Dinda menyebut produk dibuat tanpa whipped cream.

Ia menggunakan es krim balok dengan bahan yang menurutnya memiliki kualitas premium. Seluruh proses produksi masih dilakukan secara homemade, dengan sesekali dibantu keluarga. Kapasitas produksi kini justru menjadi perhatian utama. Stok biasanya sudah habis sekitar pukul 15.00 sehingga ekspansi cabang belum menjadi prioritas.

Usaha tersebut bermula dari keinginan Dinda menikmati es gabin yang belum menemukan penjualnya. Ia lalu mencoba membuat sendiri. Respons teman-temannya membuka peluang yang lebih besar hingga produk tersebut memiliki pelanggan tetap.

Kini, es gabin tidak hanya menjadi camilan untuk melepas penasaran. Dari jastip pelajar hingga pembeli yang kembali berulang, permintaannya mulai membentuk pasar tersendiri di Kota Malang.

Baca Juga: Tren Es Gabin Viral di Malang, Konsepnya Ternyata Diadaptasi dari Graham Bar Filipina

Disunting kembali oleh Aqila

Editor : Aditya N. Rian
Es Gabin Jalan Kalpataru jajanan pelajar UMKM MAlang Jastip