JawaPos.com – Kopi Warung Pemula kembali menggelar diskusi Colloquy Seri ke-7 mengangkat tema “Gagasan Membangun Lembaga Income Generator Berbasis Knowledge dan Inovasi dalam Universitas” di Babakan Tengah, Dramaga-Bogor, Kamis (24/) malam.

Prof. Asep Saifuddin, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia mengatakan syarat awal membangun income generator di universitas adalah inklusifitas. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang berdiri terpisah dari masyarakat sekitar.

“Kampus dan masyarakat harus menjadi satu kesatuan. Tidak boleh terpisah oleh pagar-pagar penyekat. Kampus dan masyarakat menjadi satu paket yang saling melengkapi. Tidak akan ada yang mencuri, kalo satu sama lain merasa saling memiliki,” ujar Asep.

Menurut Asep, kelebihan manusia (Homo Sapiens) dibanding makhluk lain adalah kemampuan bermasyarakat. Sehingga universitas tidak boleh eksklusif dari lingkungan sekitar kampus. Jika kampus terbuka untuk semua kalangan, potensi untuk sinergi semakin lebar.

Secara tidak langsung pembentukan lembaga income generator juga tidak hanya terbatas pada segmen mahasiswa, namun juga melibatkan masyarakat.

Selain itu, inovasi akan mudah lahir dari lingkungan yang egaliter.

“Semua civitas kampus harus membangun sikap kesetaraan. Sehingga ide ide inovatif bisa muncul darimana saja, tidak hanya dari kalangan elit kampus saja,” ungkap Asep.

Muhammad Karim, Dosen Universitas Trilogi mengungkapkan bahwa Indonesia harus belajar dari Israel untuk melahirkan generasi yang Inovatif. Salah satu negara yang hidup dari lingkungan yang tertekan sehingga memaksa mereka untuk terus berpikir dinamis.

“Di Israel, setelah lulus SMA anak-anak tidak langsung masuk universitas. Mereka diberi pendidikan ilmu-ilmu eksakta dan dibekali dengan ilmu intelejen terlebih dahulu. Baru setelah selesai, mereka dikirim ke kampus-kampus terbaik dunia. Lalu mereka kembali dengan kemampuan untuk memimpin perusahaan-perusaahan kelas dunia,” kata Karim yang juga turut hadir sebagai pembicara pada Qolloquy.

Karim menjelaskan bahwa Bangsa Israel memiliki prinsip untuk selalu menjadi yang terbaik. Berbekal kecerdasan dan pengetahuan, mereka selalu hadir dengan inovasi terbaru mendahului bangsa bangsa lain.

“Di Indonesia baru heboh tentang fenomena distruption sekarang, mereka (Yahudi) sudah persiapkan 30 tahun yang lalu,” tutur Karim.

Karim membenarkan jika kunci membangun generasi yang inovatif adalah kesetaraan.

“Israel berasal dari bangsa-bangsa yang berdiaspora. Budaya mereka itu Egaliter. Sehingga siapapun selalu berpikir kreatif tanpa tertekan oleh kasta dan strata,” pungkasnya.

Editor           : Imam Solehudin

Reporter      : Yesika Dinta