JawaPos.com – Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) saat ini tengah berusaha menekan angka kemacetan. Pasalnya, karena kemacetan kerugian negara yang mencapai Rp 100 triliun.

Peneliti Institut Studi Transportasi Deddy Herlambang melihat jalan satu-satunya adalah mengintegrasikan transportasi. Deddy melihat Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) harus fokus dalam targetnya.

“RITJ kan sudah mencakup integrasi ticketing, fisik atau infra, dan jadwal semuanya sudah. Kalau secara infra kan mahal, integrasi yang paling rasional dan realistis ya memang ticketing,” ungkapnya kepada JawaPos.com, Sabtu (12/1).

Menurutnya, baik pihak BUMN dan BUMD harus mampu bekerja sama sebab saat ini nyatanya jalannya masih sendiri-sendiri. Maka, Deddy menyarankan agar Pemerintah tetap fokus pada RITJ.

“Kalau kita saran harusnya tetep pakai RITJ. karena BPTJ itu bukan otoritas dan bukan superbodi memang cuma bisa rekomendasi atau saran, tidak punya daya paksa. RITJ itu bikinnya sulit sampai 2-3 tahun masa hanya sebagai bahan bacaan,” tegasnya.

Maka dari itu, Deddy menyatakan Intrans sendiri tengah berupaya mengupas permasalahan-permasalahan menyangkut jalan tol dan integrasi pembayaran. Sebab, sesuai keinginan masyarakat sudah seharusnya hanya satu kartu yang digunakan untuk semua.

“Mereka mau menggunakan platform RITJ saya pikir tidak ada masalah, karena ada egosektoral ini yang bikin implementasinya makin lama nantinya terus pakai 2 kartu lagi. Kita dambakan satu kartu saja untuk semua,” tandasnya.

Editor           : Bintang Pradewo

Reporter      : Reyn Gloria